Ada Tiga Kategori PSK di Indonesia

sejauh ini terdapat tiga kategori PSK di mayoritas negara Asia, termasuk di Indonesia.

IStimewa
Ilustrasi PSK papan atas 

TRIBUNNEWSBATAM.COM, JAKARTA - Pengamat isu perempuan dan keadilan jender yang juga Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, mengatakan kasus bisnis jual beli Pekerja Seks Komersial (PSK) papan atas di Indonesia bukan fenomena baru.

Menurut Sulistyowati, sejauh ini terdapat tiga kategori PSK di mayoritas negara Asia, termasuk di Indonesia.

"Mengacu pada sebuah penelitian yang dilakukan Professor Louise Brown dari Inggris tentang perdagangan perempuan dan pelacuran di banyak negara Asia, ada tiga kategori PSK, yang tidak bisa disamaratakan," kata Sulistyowati kepada CNN Indonesia, Senin (11/4/2015).

Louise Brown merupakan seorang dosen Studi Asia di University of Birmingham, Inggris, yang menulis buku berjudul Perbudakan Seks di Asia. Menurut Louise, kata Sulistyowati, tiga kategori besar dibuat untuk memisahkan jenis pelacuran.

"Yang pertama adalah kelompok perempuan cantik yang memilih profesi menjajakan diri dengan bayaran yang sangat tinggi," kata Sulistyowati.

PSK kelas atas dari kelompok pertama ini, kata Sulistyowati, memiliki wajah yang sangat cantik, berpendidikan dan biasanya fasih berbahasa Inggris.

Mereka bekerja dengan berkeliling dari kota demi kota di Asia dan mendapatkan bayaran hingga ratusan juta rupiah.

Louise menjabarkan hal tersebut dalam bukunya, 'di bagian utama pasar (pelacuran) Asia adalah prostitusi kelas atas yang disebut perempuan panggilan, yang bekerja di hotel dan apartemen mewah dan memberikan layanan kepada lelaki hidung belang yang kaya raya. '

"Perempuan penjaja yang berasal dari kelompok ini jumlahnya paling sedikit dan paling langka di piramida bisnis seks di Asia," kata Sulistyowati menjelaskan.

Perempuan PSK dari kelas ini memilih melakukan prostitusi karena mereka bisa meraih uang banyak dalam waktu singkat melalui seks.

Mereka biasanya berasal dari keluarga kelas menengah dan tidak menjual seks karena miskin dan tak punya pekerjaan lain melainkan faktor kenikmatan.

Lalu, kata Sulistyowati, kelompok yang kedua adalah grup PSK yang menjajakan diri mereka ditemani dengan mucikari dan biasanya ditemukan di tempat lokalisasi.

"Salah satunya yang ditemukan Pemda DKI di Kalibata Mall. Itu termasuk ke dalam jenis PSK kedua ini," kata Sulistyowati mengacu kepada penelitian Brown.

Kelompok kedua tersebut, katanya, memiliki struktur, jaringan serta mucikari yang menjaga dan memasarkan pelacur bersangkutan. Jumlah PSK di kelompok kedua ini jauh lebih banyak dari kelompok di level atas.

"Seterusnya, ada kelompok pelacuran yang sungguh-sungguh menjajakan diri karena terdesak kebutuhan ekonomi," kata Sulistyowati.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved