Kamis, 9 April 2026

Krisis Air Hantui Batam

Krisis Air, Warga Tiban Indah Tampung Air dari Galian Parit

Disana warga menampung air yang mengalir dari bekas galian yang akan dibuat parit oleh pengembang perumahan baru tidak jauh dari lokasi pemukiman.

Tribun Batam/Ist/Fb/Winarko Iksa
Kondisi Waduk di Batam yang mengalami penyusutan dan kekeringan 

Laporan Tribunnews Batam, Wahib Wafa

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM - Krisis air di Batam mengancam kesehatan warga.

Apalgi warga yang terpaksa menggunakan air tidak layak karena tidak mengalirnya air bersih dari PT ATB.

Seperti yang dilakukan sebagian warga Tiban Indah, tak jauh dari SMPN 25.

Disana warga menampung air yang mengalir dari bekas galian yang akan dibuat parit oleh pengembang perumahan baru tidak jauh dari lokasi pemukiman penduduk.

Agus, seorang warga Tiban Indah mengaku terpaksa menampung air yang bersumber dari parit perumahan yang tengah dalam proses pembangunan.‎

Beberapa hari lalu, ia mengaku masih mengambil air disana.

Namun, hari ini tidak bisa mengambil air karena air tersebut sudah kering lantaran banyaknya warga yang juga mengambil air tersebut.

"Dah 4 hari ini air tak ngalir (air ATB). Terpaksa kita ambil air di galian tanah yang rencananya dibuat parit oleh perumahan baru. Air kita anggap masih bersih karena baru dibuat galian untuk parit," ujar Agus saat berdiskusi bersama warga mengenai sulitnya air bersih di wilayah Tiban, Selasa (9/9/2015).

Kondisi krisis air ini mendapat sorotan dari Dinas kesehatan (Dinkes) Kota Batam.

Dinkes mulai menyoroti ‎dampak kesehatan yang bakal dialami warga akibat sulitnya mencari sumber air.

‎Diakui Sri Rupiati selaku Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) jika permasalahan air ini tak kunjung terselesaikan, tak sedikit warga menjadi korban.

"Kalau ini berkelanjutan, pasti dampaknya pada kesehatan warga yang mengkonsumsi air tidak bersih. Berbagai penyakit akan mudah masuk. Kita tengah melakukan penyuluhan ke warga," ujar Sri Rupiati.

Dampak penyakit yang dirasakan‎ warga, menurut Sri diantaranya diare, sakit kulit yang berujung iritasi, dehidrasi dan masih banyak lainya. Jika diare berkepanjangan dapat menyebabkan kematian.

"Kalau diare sudah akut, pasien juga bisa meninggal. Jangan sepelakan diare itu. Kita sesegera mungkin akan antisipasi itu," katanya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved