KALEIDOSKOP KEPRI 2015

Protes Kebijakan Kampus, Mahasiswa Universitas Putra Batam Jahit Mulut

ksi jahit mulut yang dilakukan Donal sebagai bentuk protes karena tuntutan yang disuarakan mahasiswa tidak pernah didengar oleh pihak rektorat kampus.

tribunnews batam/dewi haryati
dok - Puluhan mahasiswa Universitas Putra Batam (UPB) dan sejumlah mahasiswa lainnya, berbondong-bondong mendatangi kantor DPRD dan Pemko Batam di Batam Centre. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Seorang mahasiswa Universitas Putra Batam (UPB), Donal Mangatas, melakukan aksi jahit mulut, sebagai tanda protes atas kebijakan kampus, Jumat (6/2/2015). Aksi tersebut berlangsung di depan kampus UPB.

Presiden Mahasiswa UPB, Ferry Budianto, mengatakan, aksi jahit mulut yang dilakukan Donal sebagai bentuk protes karena tuntutan yang disuarakan mahasiswa tidak pernah didengar oleh pihak rektorat kampus.

"Selama ini mahasiswa sudah berteriak menyuarakan aspirasi tapi tak dipedulikan. Dengan cara seperti ini, mudah-mudahan hati Ibu Rektor, Nur Elvi Husda, terbuka, dan mau menyelesaikan semua permasalahan ini," kata Ferry.

Aksi ekstrim yang dilakukan Donal itu sudah empat hari yang lalu. Hal ini bertujuan agar pihak UPB bisa menyelesaikan permasalahan dan mau mendengarkan suara terhadap mahasiswa berkuliah di kampus tersebut.

Aksi yang dilakukan bersama mahasiswa dan rekan pengurus BEM hingga hari ini, hanya menuntutu perubahan peraturan yang dibuat pihak universitas kepada mahasiswa.

"Sudah malas lagi berbicara. Sama saja, kalau bicara tidak ada hasilnya. Lebih baik kami seperti ini, tidur-tiduran aja di depan kampus. Dengan adanya rekan-rekan menjahit mulutnya, semoga ada kepedulian sedikit," katanya.

Dari mulut Donal terlihat tujuh jahitan dengan menggunakan benang merah. Bersama sejumlah rekannya, dia membentangkan beberapa kertas berukuran besar yang bertuliskan, menuntut pihak kampus harus peka terhadap mahasiswa dan jangan bungkam kami dengan aturan yang tidak jelas.

Gelombang protes mahasiswa UPB sudah terjadi sejak bulan lalu. Ribuan mahasiswa melakukan mogok belajar dan menggelar aksi demonstrasi di halaman kampus, pada 21 Januari lalu.

Mereka mendesak Rektor UPB mundur karena dinilai bertangan besi dan banyak membuat peraturan yang merugikan mahasiswa.

Aksi tersebut kemudian terus berkembang. Bahkan sempat terjadi bentrok antara mahasiswa dengan belasan orang suruhan pihak kampus. Dua mahasiswa sampai dirawat di RSUD Embung Fatimah, Selasa (3/2), termasuk Donal Mangatas Togatorop yang melakukan aksi jahit mulut serta rekannya yang lain, Jufrianto.

Pemukulan terjadi ketika pihak rektorat hendak menutup kantor Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melalui orang-orang suruhannya. Nah, beberapa mahasiswa mencoba menghalangi penutupan itu hingga bentrok pun tak terhindarkan.

Di lain pihak, lima dosen UPB, sebelumnya, mengadu ke Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Kepri, di Ibnu Sina, Jumat (23/1). Para dosen yang semuanya wanita itu merasa dilecehkan oleh sejumlah mahasiswa UPB saat aksi demonstrasi beberapa waktu lalu.

Hazimah, dosen Teknik industri salah satunya bercerita ketika itu sejumlah mahasiswa menerobos masuk ke dalam kelasnya. Tanpa izin, mahasiswa tersebut memaksa mahasiswa lainnya untuk ikut berdemo. Tak hanya memaksa, mahasiswa juga sempat melontarkan kata-kata kasar dan melecehkan profesi dosen.

Perlakuan serupa ikut dirasakan dosen wanita lainnya, seperti Sri Afridola dosen manajemen, Murlinda Ayu dosen Teknik Industri, dan Heryenzus doses sistem Informasi.

"Harus digarisbawahi, kami bukan mencampuri antara mahasiswa dan institusi, kami hanya mencari perlindungan. Melaporkan pelecehan yang kami rasakan. Sebab, antara kami dosen dengan mahasiswa tidak ada permasalahan," ucap Hazimah.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved