Sabtu, 11 April 2026

Indonesia Akan Miliki Museum Pluralisme dan Budaya di Vatikan

Pendirian museum itu, merupakan suatu bentuk diplomasi budaya dan merupakan kehormatan bagi Indonesia untuk menunjukan budaya pluralisme

Istimewa
Dubes Indonesia yang baru untuk Vatikan, Antonius Agus Sriyono (tengah - duduk, batik hitam, berkacamata) berfoto bersama dengan kelompok Mia Patria di St. Mary s College, Jakarta, Rabu (20/1). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebuah museum Indonesia yang menampilkan pluralisme dan kemajemukan budayanya sedang dididirikan di Vatikan, Roma.

Pendirian museum itu, merupakan suatu bentuk diplomasi budaya dan merupakan kehormatan bagi Indonesia untuk menunjukan budaya pluralisme tidak hanya kepada Vatikan tetapi juga kepada dunia.

Demikian ditegaskan oleh Dubes baru untuk Vatikan, Antonius Agus Sriyono di Jakarta, di Akademi Sekretaris St. Mary’s College, Jakarta, Rabu (20/1/2016) dalam rilis yang diterima Tribun.

Pernyataan itu diungkapkannya saat mengunjungi kelompok budaya, MIA PATRIA, pimpinan L. Putut Pudyantoro yang pada tahun 2016 akan mengadakan lawatan ke Eropa termasuk Vatikan.

Tahun ini merupakan lawatan ke luar negeri keempat bagi Mia Patria, yang didirikan pada tahun 2008.

"Vatikan adalah negara kecil yang besarnya hanya 34 ha. Tetapi tidak ada yang memungkiri, bahwa Vatikan adalah negara yang memiliki pengaruh paling besar kepada negara-negara di dunia. Membangun museum Indonesia di Vatikan merupakan langkah yang tepat terkait dengan diplomasi budaya, yang sekarang dilakukan Indonesia," ujar Agus Sriyono.

Menurutnya, pembangunan museum Indonesia di Tahta Suci itu diperkirakan akan selesai pada awal Oktober 2016. Dalam museum itu ada beberapa ikon Indonesia termasuk antara lain Borobudur yang ditampilkan.

Pertemuan dengan Mia Patria, demikian dijelaskan lebih lanjut, adalah kegiatan pertama yang dilakukannya setelah pelantikan dan sebelum berangkat menunaikan tugas ke Vatikan.

Mia Patria, menurut pria asal Magelang itu, telah memresentasikan kemajemukan budaya di Indonesia ke luar negeri, Eropa dan Amerika Serikat.

Perjalanan kelompok ini ke luar negeri dalam rangka titian budaya dilakukan jauh sebelum dirinya menjadi dubes dan kelompok ini sudah menunjukkan komitmen sebagai duta budaya Indonesia meskipun tidak secara resmi.

"Saya hanya meneruskan apa yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu saya sebelumnya terkait dengan diplomasi budaya. Perjalanan Mia Patria berkeliling Eropa beberapa kali dan Amerika beberapa waktu lalu telah menunjukkan keseriusan kelompok ini dalam membawa kemajemukan budaya Indonesia," ujarnya.

Agus Sriyono juga sedang merancang wisata religi ke Larantuka bagi peziarah yang datang ke Vatikan. Menurutnya, ada lima juta peziarah dunia yang datang ke Vatikan untuk setiap tahunnya.

Dengan usaha yang terpadu di antara para duta besar, diharapkan beberapa persen peziarah ke Vatikan akan melakukan perjalanan religius ke Larantuka dan ini jelas menumbuhkan ekonomi daerah tersebut.

Sementara itu, menurut L. Putut Pudyantoro, Mia Patria terbentuk pada tujuh tahun lalu yakni 26 November 2008.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved