Hasil Operasi Gerhana III, DJBC Kepri Lakukan 25 Penindakan

"Untuk nilai komoditi sekitar Rp 11.211.050.000 dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 4.310.488.000,"

Tribun Batam/Elhadif
Ekspos hasil penindakan Operasi Gerhana III yang dilakukan oleh Kanwil Direktorat Bea dan Cukai Khusus Kepri 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN - Kanwil Direktorat Bea dan Cukai (DJBC) Khusus Kepri melakukan 25 penindakan patroli laut pada periode pertama Operasi Gerhana III yang telah dimulai sejak 6 Juni lalu.

Dari 25 penindakan tersebut, tiga diantaranya penegahan komoditi bawang di sektor laut Lhokseumawe-Belawan oleh Kanwil BC Aceh yang nilainya sekitar Rp 2,94 miliar, dua penindakan TKI ilegal oleh Kanwil BC Sumut dan enam penindakan bawang impor di laut Bengkalis-Dumai oleh Kanwil BC Sumbar yang nilainya sekitar Rp 2,89 miliar.

Selanjutnya sembilan penindakan upaya penyelundupan rokok FTZ oleh Kanwil BC Kepri di laut Karimun-Batam yang nilainya sekitar Rp 3,69 miliar, satu kali penindakan pasir timah oleh Kanwil BC Kepri di laut Natuna yang nilainya sekitar Rp 1,43 miliar, dan empat penindakan campuran oleh KPU BC Batam yang nilainya sekitar Rp 2,52 miliar.

"Untuk nilai komoditi sekitar Rp 11.211.050.000 dengan potensi kerugian negara sekitar Rp 4.310.488.000," kata Kepala Kanwil DJBC Khusus Kepri, Parjiya saat ekspos penindakan, Senin (27/6/2016).

Parjiya menyebutkan jika operasi Gerhana III dilaksanakan sejak 6 Juni hingga 20 Juli 2016.

Operasi terpadu yang dilakukan oleh Kanwil BC Aceh, Kanwil BC Sumut, Kanwil BC Sumbar, Kanwil BC Kepri, KPC Batam dan KPPBC Tanjung Balai Karimun.

"Ini merupakan Oprasi Gerhana III periode pertama yang dilakukan oleh kapal patroli. Kita bersinergi dengan Kanwil dan KPPBC lain," ujarnya.

Dijelaskannya, penindakan yang dilakukan terhadap penyelundupan impor, ekspor dan barang FTZ ilegal. Barang impor berupa bawang merah dan barang kelontong ilegal dari Malaysia.

Sementara penyelundupan barang ekspor berupa pasih timah. Sedangkan barang FTZ yang diselunduokan adalah rokok berbgai merk produksi Batam.

"Kita harapkan pemerintah memperkuat swasembada. Seharusnya ada kekuatan dari dalam untuk memenuhi kebutuhan dari dalam negeri sendiri," ungkap Parjiya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved