Kamis, 23 April 2026

Menilik Seberapa Besar Manfaat Bantuan Alat Tangkap Pertamina untuk Nelayan

"Kalau dulu satu hari 150 kilogram, itu sudah semua, baik ditangkap sendiri, dan dari nelayan lain di kelompok ini. Tapi sekarang sudah lebih,"katanya

tribunnews batam/anne maria
Hasil tangkapan nelayan Gampong Beurawang, Kecamatan Suka Jaya, Sabang, Aceh. 

"Tidak bisa dihitung dari peningkatan jumlah tangkapannya saja. Tetapi juga dari sisi lain, semakin banyak nelayan yang bisa menangkap gurita. Lalu, dulu tidak punya perahu dan mesin, sekarang sudah bisa menangkap dengan perahu sendiri," tutur Cut.

Cut menuturkan di kelompok ini, ada lima orang anggota yang merupakan keluarga dekat. Dulu, satu orang dari mereka, paling hanya bisa membawa dua orang nelayan lagi untuk menangkap gurita. Dengan bantuan ini, maka bisa bertambah menjadi lima orang dalam satu kapal.

"Di Aceh memang seperti itu, kelompok nelayan biasanya masih keluarga, tidak boleh dicampur-campur. Nanti satu keluarga itu bisa bawa berapa orang nelayan, nah nanti tangkapan nelayan itu dijual ke mereka juga. Jadi mereka ini sekaligus penampungnya," tutur Cut lagi.

Dengan bantuan CSR, semakin banyak anggota nelayan, maka semakin menambah gurita yang ditangkap. Berbeda saat fasilitas masih terbatas.

‎"Sekarang sudah 15-20 nelayan di kelompok ini," kata dia.

Menurut Cut, program CSR ini sudah dimulai sejak sebelum tsunami melanda Aceh.

Saat ini, karena keterbatasan pengolahan, masyarakat biasanya hanya menggunakan gurita non tentakel.

Sementara untuk tentakel sudah diekspor ke beberapa negara di Eropa, juga Jepang.

"Saat ini baru mengolah sate, karena orang sini sendiri kalau tidak makan sate gurita rasanya aneh. Selebihnya sudah untuk di eksport. Ini makanan mahal. Beberapa negara Eropa mengkonsumsi ini, Jepang juga," katanya. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved