Harga Cabe di Pasar Tinggi, Tapi Petani Cabe Malah Rugi. Kok Bisa?

Saat ini, harga cabe di pasaran cukup bervariasi. Di Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, cabe tembus dengan harga Rp 80 ribu per kg

Editor: Mairi Nandarson
serambi indonesia
ilustrasi 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN - Ketua Himpunan Tani Bintan Irwanto mengatakan, kenaikan harga cabe di pasaran tidak berdampak bagi petani cabe, khususnya di Bintan.

Menurut dia, di tengah kenaikan harga cabe yang berkali lipat di pasar, para petani lokal justru mengalami kerugian.

Saat ini, harga cabe di pasaran cukup bervariasi. Di Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, cabe tembus dengan harga Rp 80 ribu per kg.

"Jangan berpikir harga cabe melejit petani meraup untung besar, tidak. Justru sebaliknya, petani merugi,"kata dia.

Ada sejumlah faktor petani merugi, di antaranya, cuaca buruk berimbas pada gagal panen di sejumlah sentra pertanian.

Faktor lain, serangan hama dan virus pada tanaman cabe, kedua hal itu, berimbas pada gagal panen.

Irwanto mengatakan, di tingkat petani, harga yang mereka peroleh dari pembeli biasa saja, tak ada perubahan.

Petani di Toapaya, Dadang, mengatakan, ada beberapa tanaman mengalami gagal panen, namun tak semua.

Gagal panen disebabkan cuaca dan hama patek yang menyerang tanaman pertanian.(*)

* Baca berita terkait di Harian TRIBUN BATAM edisi Selasa, 10 Januari 2017

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved