Motion

Bermimpi Anambas Jadi Sentral Produksi Pala

Buah yang dapat ditemukan dengan mudah di desa ini pun memiliki nilai ekonomis serta dapat diolah menjadi aneka produk makanan dan minuman.

TRIBUN BATAM
Motion 

ANAMBAS, sebagai daerah kepulauan, tidak hanya terkenal akan hasil laut yang melimpah dan keindahannya yang memesona.

Tetapi, di sini juga kaya akan hasil rempah-rempah. Satu di antaranya adalah pala yang ditanam warga Desa Tiangau Kecamatan Siantan Selatan.

Para petani pala di sini, bahkan telah membentuk Komunitas Petani Pala Anambas.

Komunitas ini, berawal dari beberapa orang yang aktif dalam pengolahan buah pala yang memiliki nama Latin Pala (Myristica fragrans) tersebut.

Dari jerih payah beberapa warga tersebut, ternyata pala dapat tumbuh subur di sini.

Baca: Awal Pekan, Harga Emas Antam Naik. Satu Gram Kini Rp 600 Ribu

Baca: Hmm, Nikmatnya Kuah Tom Yam di Asher Bistro and Lounge Bikin Nagih

Baca: Kemeja Bikin Ngantor Makin Gaya

Menurut Taspinardi, seorang warga yang aktif di komunitas ini mengatakan, pihaknya melihat pala ini tumbuh subur di daerah Banda, Maluku, sehingga diujicoba di Siantan, dan ternyata juga bisa tumbur subur.

Hingga kini banyak warga yang terlibat aktif dalam menanam serta mengembangkan buah pala tersebut.

Buah yang dapat ditemukan dengan mudah di desa ini pun memiliki nilai ekonomis serta dapat diolah menjadi aneka produk makanan dan minuman.

“Saya tertarik dengan pengolahan buah pala ini. Produksi buah yang cenderung melimpah, serta nilai ekonomis yang terbilang tinggi, menjadi alasan utama,” ujarnya pada Tribun yang di desa Desa Tiangau Kecamatan Siantan Selatan Sabtu (8/4/2017).

Pria yang akrab disapa Taspin ini, awalnya hanya mengirim hasil dari buah pala untuk dikirim ke Tanjungpinang. Buah yang dikirim merupakan hasil jerih payah orangtuanya, Zainal Abidin yang ditanam sekitar 48 tahun lalu.

"Selama ini hanya dikirim ke Tanjungpinang yakni biji dan puli atau kulit arinya,”tambahnya.

Sebelum dijual, biji dikeringkan terlebih dahulu. Lama waktu menjemurnya tergantung kondisi cuaca, biasanya dua atau tiga hari sudah kering. Sementara untuk kulitnya selama ini dibuang.

Untuk buah pala ini, terus berbuah sepanjang tahun. Per pohon bijinya saja ada yang bisa mencapai berat 15 kg untuk umur pohon yang sudah mencapai belasan tahun.

Harga biji pala kering yang dijual dari petani pun terbilang menggiurkan, mencapai Rp 100 ribu per kilogramnya.

Sementara, untuk puli atau kulit ari dari buah tersebut dijual dari petani ke pengepul yang ada di Tanjungpinang mencapai Rp 120 ribu per kilogram.

Untuk meningkatkan produksi buah pala, komunitas bersama Kepala Desa setempat mewajibkan setiap warga menanam pohon pala minimal 10 pokok di perkarangan rumah atau ladang.

Hal ini sudah dilakukan sejak 2016 lalu. Sehingga tidak mengherankan jika desa ini memang banyak ditumbuhi pokok pala.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved