Motion

Pertahankan Permainan Tradisional Layang-Layang

LAYANG-layang merupakan satu di antara beberapa jenis permainan tradisional yang masih eksis hingga kini di Kota Tanjungpinang.

TRIBUN BATAM
Motion 

"Kami tak menetapkan syarat khusus. Siapa saja bisa bergabung," tegas Rakhmat.
Secara formal, Komunitas ITAM berada dalam naungan Yayasan Masyarakat Layang-Layang Indonesia (YMLI) Kota Tanjungpinang yang menginduk pada YMLI pusat dan berada dalam naungan Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (PORMI). (iwn)

Hadirkan Layang-Layang Modern

Berkerasi dan berinovasi untuk menghasilkan ragam bentuk layang-layang yang modern merupakan satu di antara tujuan utama ITAM dibentuk.

Menurut Rakhmat, sampai saat ini sudah tak terhitung lagi jumlah kereasi laying-layang modern yang sudah dibuat. Pembuatan layang-layang masa kini tentu disesuaikan dengan kondisi kekinian dengan memanfaatkan tenologi dan bahan masa kini pula, termasuk membuat layang-layang yang mempunyai bentuk dua dimensi (2D0 dan tiga dimensi (3D), seperti Rokaku, Dragon Trend, balon, tradisional, Stunt Kites, dan revolution.
Namun, di beberapa sisi, masih tetap mempertahankan bentuk tradisional.

"Intinya pembuatan layang-layang disesuaikan dengan tema dan kondisi hati si pembuatnya. Kita dalam berkarya bukan karena sesuatu, tapi lebih kepada penciptaan karya melalui hati dan kesempurnaan berfikir," katanya.

Untuk membuat laying-layang 3D modern memang diperlukan waktu yang tidak sebentar. Namun, Rakhmat mengaku, meskipun memerlukan waktu lama, tapi jika hasil karyanya dikagumi banyak orang dan mandapat apresiasi, membuat bahagia dan menghilangkan rasa lelah. (iwn)

Menangkan Berbagai Lomba
Berbagai penghargaan dan kemenangan di ajang lomba laying-layang sudah banyak diraih para anggota komunitas ITAM. Beberapa di antaranya juara 1 tingkat nasional lomba layang-layang tahun 2008 se Sumatera. Juara 1 tingkat nasional tahun 2009 di Yogyakarta, pemenang kategori Creative Kites International 2013, Runner Up kedua Dragon Kites tahun 2013, dan Runner up kedua Train Kites 2013.

"Sampai sekarang kami masih menjuarai berbagai kompetisi layang-layang," kata Rakhmat.

Menurutnya, para anggota komunitas ini berkompetisi bukan sekedar mengejar hadiah, melainkan sebagai upaya utama untuk mempertahankan permainan laying-layang dan melakoninya sebagai permainan profesional.

Untuk mengikuti kompetisi ini, setiap peserta dituntut agar memenuhi beberapa syarat, sesuai dengan jenis maupun tema kompetisi.

Misalnya, “Rokakku Challenge”, layang-layang segi enam memiliki standar internasional 1,6 mter x 2,10 meter. Adalagi, kompetisi jenis sport kites, yaitu Stunt Kite 2 Lines atau menggunakan dua benang. Yang lebih menantang adalah Revo (Revolutions) yang menggunakan empat lines atau empat benang.

Namun ada yang semi sport yang sifatnya lebih untuk senang-senang, yaitu Nasa Kite yang menggunakan empat lines. Stunt Kites apalagi Revo sering dipertandingkan. Biasanya yang bermain berdua atau beregu dengan iringan lagu serta mengutamakan keserasian.

Layang-layang merupakan permainan yang tergantung dengan kondisi cuaca dan angin. Selain itu juga ketersediaan lokasi. Karena dipengaruhi faktor angin, para pemain kerap mengalami kendala. Misalnya, ketika akan bermain, tiba-tiba angin berhembus terlalu kencang atau semi badai atau angin bertiup terlalu pelan.

Untuk itu, mereka biasa bermain pindah-pindah sesuaikan dengan kondisi angin dan kenyamanan tempat bermain itu sendiri.

Demikian pula dengan lokasi bermain para anggota ITAM. Kadang-kadang mereka bermain di Rimba Jaya dan Bintan Center, terkadang pula di tempat lain. (iwn)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved