Tahuka Anda Seks Badak Sumatera Ternyata Paling Ribet di Dunia Satwa ?
Dengan periode birahi dan mood betina yang singkat, kerepotan bertambah dengan perilaku badak sumatera jantan yang kerap agresif
Pertemuan dan seks badak yang sulit adalah tantangan dalam konservasinya.
Ilmuwan dan pegiat konservasi bekerja keras untuk menakhlukkan tantangan itu.
Salah satu pemecahan masalah muncul dalam studi Zainal Zahari, ilmuwan Malaysia.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Science tahun 2004 itu menyebut, lebih baik jantan diperkenalkan pada betina yang sudah birahi.
Setelah seks, kehamilan dan kelahiran pun menjadi tantangan tersendiri.
"Badak sumatera mengandung 15-16 bulan. kalau berhasil dilahirkan, induknya harus bersama 3 tahun," kata Widodo.
Seperti manusia, badak juga menghadapi risiko keguguran saat melahirkan.
Badak pun berisiko mati saat masih bayi.
Sulitnya seks dan reproduksi badak sumatera ini bisa menjadi gambaran betapa sulitnya menambah populasinya. Konservasi badak perlu dukungan.
Saat ini, badak sumatera di Sumatera tinggal 100 ekor dan di Kalimantan tinggal 23 ekor. Dua populasi itu punya tantangan khas yang besar.
Badak sumatera di Sumatera enghadapi tantangan perubahan habitat dan aktivitas masyarakat.
Sementara yang di Kalimantan menghadapi tantangan tambang dan pemasangan jerat.
Jerat bisa merenggut nyawa badak. Tahun 2016 lalu, badak sumatera di Kalimantan bernama Najaq mati akibat infeksi berat karena jerat.
Kasus itu bisa jadi bukti bahwa satu kejahatan lingkungan manusia bisa mengakibatkan upaya besar penyelamatan satwa berakhir percuma.(*)