Krisis Diplomatik di Qatar
Negara Qatar yang Kaya Itu Dulu Ternyata Hanya Negara Miskin di Teluk
Negara ini merdeka pada 1971 dan tak lama kemudian menemukan salah satu cadangan gas alam cair (LNG) terbesar di dunia
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, DOHA - Perhatian dunia tertuju ke Qatar dalam beberapa hari belakangan, setelah sejumlah negara Arab memutus hubungan diplomatik, setelah dituduh mendukung ekstremisme dan terorisme.
Qatar menjadi pemain kunci, baik secara regional maupun global, dalam beberapa tahun belakangan, ditandai antara lain dengan kesiapan negara itu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Di luar itu, stasiun televisi Al-Jazeera, yang dimiliki pemerintah, memantapkan diri sebagai salah satu media internasional terkemuka.
Di bidang politik, Qatar berupaya menjadi sponsor utama perundingan damai pihak-pihak yang bertikai di Afganistan.
Baca: Krisis Diplomatik Qatar, Bikin Negara Muslim Non-Arab Sulit Bersikap. Ini Sebabnya
Baca: Qatar Kecam Serangan Bom di Iran yang Tewaskan 12 Orang
Kondisi ini jelas berbeda beberapa puluh tahun lalu, di mana Qatar ketika itu adalah salah satu kawasan miskin di Teluk.
Beberapa dekade lalu, Qatar tak lebih dari daerah nelayan yang masuk protektorat Inggris.
Negara ini merdeka pada 1971 dan tak lama kemudian menemukan salah satu cadangan gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, nomor tiga setelah Rusia dan Iran.
Dengan cadangan LNG mencapai 900 triliun kaki kubik, Qatar menjadi eksportir LNG terbesar di dunia.
Penerimaan dari minyak dan gas membuat pendapatan per kapita rata-rata negara ini mencapai lebih dari 100.000 dollar AS, jauh melampaui AS atau Inggris.
Baca: Qatar Alami Krisis Diplomatik, Turki Berencana Kirim Pasukan ke Doha
Baca: Bahas Masalah Qatar, Emir Kuwait Datangi Arab Saudi
Baca: Warga Qatar Panik, Perbatasan dengan Arab Saudi Ditutup. Borong Bahan Makanan di Swalayan
Harrods dan perkampungan atlet London
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/kota-doha-qatar_20170608_073316.jpg)