Motion
Komunitas Petani Pisang, Mengolah Pisang Jadi Tepung dan Pempek
Masyarakat di desa ini telah membentuk komunitas petani pisang. Tidak hanya satu kelompok, tetapi sudah ada empat.
"Kami melihat bagaimana akhirnya tingkat ekonomi kerakyatan dan ketahanan pangan mereka. Selama ini, pisang masyrakat ini hanya dijual begitu saja. Tidak ada jaminan kalau pisang mereka akan dibeli dan dijemput langsung oleh kapal. Sehingga, piang yang telah matang cenderung terabaikan," ujarnya. (*)
Produksi Kerupuk Kulit Pisang
PRODUK olahan pisang berupa tepung kerupuk dan pempek yang dihasilkan kelompok tani Desa Telaga, Kecamatan Siantan Selatan, masih memerlukan sarana dan prasarana yang memadai.
Satu masalah krusial yang dihadapi para petani adalah keterbatasan tenaga listrik yang ada di desa yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 100 Kepala Keluarga (KK) ini.
Di desa ini, listrik terbatas dan menyala mulai dari pukul enam sore hingga pukul sepuluh malam.
Karena keterbatasan listrik, produk olahan pisang ini masih dikerjakan secara sederhana dalam kapasitas produksi yang masih kecil.
"Untuk pengembangan, tentunya butuh sarana dan prasarana yang memadai. Seperti blender yang
bisa mengolah dengan skala besar. Belum lagi masalah listrik,”ujar Camat Siantan Selatan,
Akhir Zaman.
Padahal, tepung pisang yang dihasilkan kelompok tani Desa Telaga telah dilirik pengusaha roti dari Batam dan Tanjungpunang. Namun, kata Zaman, para petani belum menyanggupi permintaan pengusaha tersebut karena produksi masih dalam skala kecil.
Tepung pisang yang dihasilkan petani dijual dengan harga cukup lumayan yakni Rp 12 ribu per kg. Selain tepung, para petani juga sudah mengolah kulit pisang menjadi kerupuk dan dijual dengan harga Rp 40 ribu per kilogramnya.
Selain masalah produksi, para petani juga masih menghadapi kendala soal izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Masih perlu dilakukan uji laboratorium tentang komposisi produk olahan pisang yang dihasilkan.
Danramil 02/Tarempa Kodim 0318/Natuna Kapten Inf Syamsuwarno mengatakan, pihaknya akan membantu para petani dengan dua cara.
Pertama, memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana produksi dalam skala industri rumahan melalui dana desa termasuk untuk keperluan uji laboratorium. Selain itu akan koordinasi dengan Disperindag Kabupaten agar mendapatkan izin industri dan produk yang dijual.
Kedua, untuk pengembangan skala menengah, mereka memerlukan mesin penggiling kulit pisang, kompor berikut dengan kuali besar serta oven.
“Rencana kelompok ini ke depan, juga pengembangan kemasan, sehingga lebih menarik minat
konsumen," ungkap Syamsuwarno. (*)
Kreativitasnya Kerap Dibilang “Gila”
PRODUK olahan pisang dari kelompok tani Desa Telaga, awalnya sempat diejek banyak orang. Khaidir yang memiliki ide mengolah pisang menjadi tepung, kerupuk kulit pisang, dan empek-empek dianggap sejumlah warga “gila”.