Mellennial

Ingin Punya Drone Jago Balap? Begini Cara Merakitnya

Biasanya drone yang build menghabiskan biaya yang cukup banyak, mulai Rp 4 juta sampai Rp 15 juta.

ISTIMEWA

DUNIA teknologi kayaknya cepat banget berputar ya guys. Kayaknya hampir setiap saat muncul aneka teknologi baru yang bakal memanjakan orang.

Sebut saja drone. Kalau dulu drone hanya sebatas sebagai perekam gambar atau video yang memudahkan penggunanya merekam dari ketinggian, tapi kini, drone telah berkembang menjadi alat yang bisa race, lho!

"Saat ini, drone racing sudah masuk cabang olahraga di aero modelling dan untuk tahun ini akan diadakan Kejurnas dan Kejurka di Yogyakarta," kata Tengku M Furhan, Pilot Race Drone di Batam dan pendiri komunitas Batam FPV.

Mellennial-Drone
 (ISTIMEWA)

Dia mengatakan, saat ini sudah ada beberapa kompetisi dan event yang dilaksanakan di Indonesia.

"Pernah di Dubai ada kompetisi ini, hadiah uang tunainya bisa sebesar 250 ribu dolar Amerika atau setara Rp 3,3 miliar," kata Tengku.

Drone racing memang berbeda dengan drone yang digunakan saat wisata. Race drone biasanya terbagi tiga jenis, yaitu ARF, RTF, dan build.

Mellennial-grafis
 (TRIBUNBATAM/GANJAR WITRIANA)

ARF (Almost Ready to Fly) adalah drone yang dijual di pasaran, tapi drone ini tanpa remote dan goggle. Jadi kita harus beli remote, goggle dan receiver.

Untuk RTV (Ready to Fly) sudah tersedia remote di dalamnya. Lalu untuk build ini biasanya bagi mereka yang sudah pro, karena mereka akan menyesuaikan spesifikasi kecepatan, hingga keringanannya.

Biasanya build menghabiskan biaya yang cukup banyak, mulai Rp 4 juta sampai Rp 15 juta.

"Dan yang harus dipersiapkan itu tentu niat, keinginan, dan mental. Selain itu tentu perlu mempersiapkan unit yang baik, dari remote, goggle, dan dronenya sendiri," ujar Tengku.

Drone biasa dengan race drone tentu berbeda, drone racing menggunakan FPV yang diperutukkan untuk balapan, freestyle menari di udara.

Baca: Menyulap Blog Jadi Mesin Uang, Begini Caranya!

Baca: Satu Jaket Bisa Banyak Gaya! Contek Mix and Match Berikut Ini

Baca: Rahasia Hasil Jepretan Kamera Smartphone Sejernih DSLR

Sedangkan drone biasa seperti DJI Phantom biasanya digunakan untuk photography, videography, sedangkan drone racing lebih ke hobi.

"FPV itu singkatan dari First Person View, dimana kita terbang tanpa melihat drone dan menggunakan goggle atau VR (Virtual Reality). Jadi 1st vjew itu dimaksudkan view dari kamera drone dikirim menggunakan VTX (Video Transmitter) dengan frekuensi dan channel tertentu yang signalnya ditangkap oleh goggle atau VR. Jadi, feel dan sensasi seperti kita yang terbang," ujarnya.

Untuk menempuh kecepatan berkisar 130km per jam, faktor penentunya pada bagian dinamo atau motor, dan kedua adalah skill pilot.

Skill seorang pilot dibutuhkan untuk membuat drone melaju dengan kencang dan mulus tanpa crash.

"Kalau rakit sendiri, setelah merakit hidupkan drone terkadang terdapat trouble yaitu seperti motor/dinamo drone tidak mau berputar atau lebih berbahaya lagi terjadi konslet pada drone. Kalau sudah seperti ini tidak bisa dipakai lagi," ungkap Tengku. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved