Inspirasi

The Power of Emak-emak. Hadapi 200 Pasukan Sendirian, Begini Kisah Wanita Pakistan Ini Kini

Pertempuran ini membuatnya mendapatkan julukan sebagai "wanita paling tangguh di Pakistan" dan membuat sistem hukum feodal berubah.

AFP
Nazo Dharejo 

Tapi Dharejo menolak norma budaya Pakistan pedesaan yang membuat perempuan tidak berdaya itu.

Dharejo sejak kecil telah membuktikan bahwa ia sama dengan laki-laki. Ia memaksa ayahnya untuk sekolah seperti laki-laki lain, di saat para perempuan di kampungnya hanya berlajar mengaji.

Tidak heran jika Dharejo kemudian merasa bahwa ia memiliki hak yang sama dengan saudara tirinya.

Di atas atap, kegigihan Dharejo ini kemudian membuat tiga saudara perempuannya ikut bergabung.

Suami, beberapa teman dan tetangganya yang sebelumnya hanya menonton, juga akhirnya terpancing naik ke atas atap, melawan kelompok bersenjata yang mengepung rumah itu higga pagi.

Untungnya, pemerintah dan hukum setempat kemudian juga berpihak kepadanya setelah namanya menjadi ikon perlawanan perempuan di Pakistan.

Pengadilan kemudian memutuskan musuh-musuhnya membayar setengah juta rupee atau sekitar Rp 64 juta sebagai kompensasi.

Musuh yang masih kerabatnya itu juga diminta melakukan permintaan maaf secara terbuka,, sebuah hukum yang sangat memalukan di pedesaan Pakistan.

Lahir dalam keluarga feodal konservatif, Dharejo awalnya hanya boleh mempelajari Quran di rumah.

Dia kemudian membujuk ayahnya untuk mengizinkan dia dan saudara perempuannya belajar bahasa Inggris.

Diam-diam, Dharejo belajar sendiri di rumah dan hanya muncul di publik ketika ikut ujian.

Dharejo kemudian menjelma menjadi wanita yang cerdas, meraih gelar Bachelor of Arts (D3) di bidang ekonomi di Universitas Sindh.

Populernya nama Dharejo membuat pemerintah Pakistan memperbaiki sistem peradilan dan membangun peradaban baru ke pelosok-pelosok konservatif , termasuk di Sindh.

Dharejo bercerita, selama berabad-abad lamanya, masyarakat di wilayah itu didominasi oleh feodalisme yang bahkan menimbulkan korban jiwa.

"Lima, enam pembunuhan terjadi dan pada tahun 1992, saudara laki-laki saya juga dibunuh," jelasnya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved