Kapal Karam, Enam ABK 8 Jam Terombang-ambing Ombak 4 Meter. Begini Cara Mereka Bertahan
Ketinggian gelombang laut, Minggu tengah malam, saat kapal ikan mereka tenggelam, sekitar 4 meter. Laut benar-benar tidak bersahabat.
Laporan Wartawan TribunBatam.id, Aminuddin
TRIBUNBATAM.id, BINTAN - Endes (21), salah satu ABK Km Putra Sulung menggenggam erat kotak fiber ikan di laut saat ombak kuat mengguncang-guncang tubuhnya bersama lima kawannya yang lain.
Ketinggian gelombang laut, Minggu (17/12/2017) tengah malam, saat kapal ikan mereka tenggelam, sekitar 4 meter.
Laut benar-benar tidak bersahabat.
Gelombang seperti mengamuk dan angin berhembus sangat kencang.
Baca: Kapal Ikan Rute Tarempa-Bintan Hilang di Laut, Begini Kondisi 5 ABK dan Nakhodanya
Baca: BALADA Warga Pulau Terdepan: Tunggui KM Bukit Raya Sejak Dinihari, Eh Kapal Baru Sandar Jam 1 Siang
Baca: Gara-Gara Duit Seribu Rupiah, Dua Remaja Duel Berdarah di Parkiran RSUP Kepri Tanjungpinang
Baca: Jonghyun SHINee Bunuh Diri, Penggemarnya Tak Percaya: Dont Kidding Me Oppa. Katakan Ini Hoax
Di langit, cahaya bintang pun tak nampak. Endes tak mampu menyembunyikan kecemasan.
KM Putra Sulung, kapal ikan tempat Endes dan lima rekannya bekerja, berlayar dari perairan Tarempa, Anambas, hendak menuju Kijang, Bintan.
Mereka berangkat dari Tarempa, Minggu dini hari, pukul 03.00 WIB.
Di tengah perjalanan, Minggu tengah malam menjelang Senin dinihari, kapal yang mereka tumpangi dihantam ombak besar di Perairan Pulau Marapas, Desa Mapur, Kecamatan Bintan Pesisir.
Gelombang kuat menghantam lambung kapal hingga bocor. Kapal kayu itu pun karam.
Endes bercerita, setelah mesin mati dan kapal mulai karam, mereka memutuskan terjun ke laut bersama-sama.
Masing masing menggunakan tutup fiber kotak ikan sebagai pelampung.
"Satu fiber dua orang. Begitu kapal bocor, mesin mati, kami tidak langsung terjun ke laut. Kami tunggu kapal itu benar-benar tenggelam, tumbangnya baru kami turun ke laut," kata dia.
Dalam kondisi terapung menghadapi ombak yang terus menggulung tubuh mereka di tengah lautan, mereka memutuskan terus bersama di lautan.
Namun akhirnya mereka terpisah juga oleh ombak yang besar.
"Awalnya kami berkumpul. Setelah itu berpencar, dua orang satu fiber," katanya.
Hampir delapan jam lamanya mereka terombang-ambing di lautan pulau Marapas, menggantungkan nyawa pada tutup fiber ikan.
Sa,pailah pada Senin pagi, pukul 09.00 WIB, mendadak datang pertolongan dari nelayan lokal.
Mereka pun diselamatkan dalam kondisi lemas ke Pulau Tanjungelong, Kecamatan Mantang, Bintan.