Harga Kertas Melejit, Penerbit pun Terjepit. Terpaksa Naikkan Harga Buku dan Kurangi Produksi
Sejumlah penerbit buku ambil ancang-ancang untuk menaikkan harga buku setelah harga bahan baku kertas melonjak naik hingga di atas Rp 16.000 per kg.
TRIBUNBATAM.id, JAKARTA- Sejumlah penerbit buku ambil ancang-ancang untuk menaikkan harga buku setelah harga bahan baku kertas melonjak naik hingga di atas Rp 16.000 per kg.
Strategi ini ditempuh agar penerbit untuk tetap bisa bertahan dan menghindari turunnya pemasukan.
Gramedia Asri Media, anak perusahaan Kompas Gramedia sudah sejak lama merasakan kenaikan bahan baku kertas tersebut.
Karena melambungnya harga kertas sudah sering terjadi dan membuat Gramedia tidak bisa berbuat apa-apa selain menaikkan harga buku.
“Kita tidak bisa berbuat banyak karena memang basis industri kita buku cetak. Jika harga kertas naik, otomatis harga buku naik karena termasuk dalam biaya produksi,” kata Strategy Management Office Gramedia Asri Yosef Dityo ketika dihubungi Kontan.co.id, Jumat (16/3/2018).
Baca: Akhirnya Presiden Jokowi Menyetujui dan Sudah Meneken Aturan Impor Garam Industri
Baca: MEMAHAMI Bahasa Broker Saham di BEI yang Bikin Ngakak, Ada Kolor dan BH Item Rupanya
Meskipun harga kertas melonjak, Gramedia tidak punya strategi khusus untuk mengantisipasi hal tersebut.
Sebagai perusahaan penerbitan buku, penentuan harga dan produksi buku tidak hanya bergantung pada biaya cetak tetapi juga pada potensi nilai jual, jenis buku dan royalti penulis.
“Jika buku tersebut diproyeksi laku, maka tetap akan diproduksi. Karena kenaikan buku tidak hanya bergantung kenaikan biaya cetak,” kata dia.
Tidak berbeda jauh dengan Gramedia, penerbit Prenada Media juga mesti menaikkan harga buku mencapai 30 persen.
“Kenaikan sampai 30 persen untuk buku terbitan kami yang dicetak tahun 2015, kemudian tahun ini dicetak ulang tapi dengan harga yang lebih tinggi,” kata Direktur Prenada Media Endah M
Penerbit yang fokus pada buku pendidikan dan umum ini bahkan mengurangi kapasitas produksinya.
Biasanya dalam setahun bisa menerbitkan 100 judul buku, kini mesti menyeleksi jenis buku yang disukai pasar.
“Sekarang sudah tidak berani mencetak segitu, kami harus memilihnya apakah sudah layak atau belum dan bisa dibeli konsumen. Jika iya, maka kemudian baru dicetak,” kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/gramedia-bcs-mall-buku_20171223_090716.jpg)