Suriah di Ambang Perang
NGERI! Militer Suriah Diduga Lancarkan Bom Kimia, Puluhan Mayat Bergelimpangan dengan Mulut Berbusa
Pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia diduga telah melakukan serangan bom kimia di Kota Douma, Sabtu (7/4/2018) malam.
Media pemerintah Suriah mengatakan, Minggu (8/4/2018) bahwa Jaish al-Islam setuju untuk pergi ke kota Jarablus setelah kelompok itu meminta negosiasi.
Namun tidak ada tanggapan langsung dari kelompok tersebut.
Kelompok pemantau Observatorium Suriah mengatakan, pihaknya belum dapat mengkonfirmasi jenis senjata kimia telah digunakan dalam serangan Sabtu.
Direktur Observatorium Rami Abdulrahman mengatakan 11 orang tewas di Douma sebagai akibat mati lemas yang disebabkan oleh pemboman berat.
SAMS mengatakan, sebuah bom klor menghantam rumah sakit Douma, menewaskan enam orang, dan serangan kedua dengan "zat kimia campuran", termasuk agen saraf, dijatuhkan ke bangunan di dekatnya.

Basel Termanini, juru bicara SAMS yang mengoperasikan fasilitas medis di Suriah mengatakan kepada Reuters bahwa 35 orang lainnya tewas di sebuah gedung apartemen di dekatnya, kebanyakan wanita dan anak-anak.
Pusat medis telah mengevakuasi lebih dari 500 korban yang mengalami kesulitan bernapas dengan mulut berbusa dan berbau kaporit.
Relawan melaporkan lebih dari 42 kasus orang yang meninggal di rumah mereka menunjukkan gejala yang sama.
Tawfik Chamaa, seorang dokter Suriah dari Uni Federasi Perawatan Medis dan Organisasi Relief (UOSSM) mengatakan, 150 orang dikonfirmasi tewas dan jumlah itu bertambah.
"Mayoritas adalah warga sipil, wanita dan anak-anak yang terperangkap di tempat penampungan bawah tanah," katanya kepada Reuters.
Jumlah korban sebenarnya masih sulit dikonfirmasi karena kota tersebut dikepung dan diisolasi oleh tentara pemerintah.
Kantor berita pemerintah Suriah, SANA justru menuduh Jaish al-Islam sengaja melakukan itu untuk menghalangi Tentara Arab Suriah," mengutip sumber resmi.
Pemerintah Suriah telah berulang kali membantah menggunakan senjata kimia selama konflik.
Serangan tersebut mendapat reaksi dunia internasional, termasuk Donald Trump.
"Banyak yang mati, termasuk wanita dan anak-anak, dalam serangan kimia tak beralasan di Suriah. Kawasan kekejaman itu saat ini dikundi dan dikepung oleh Tentara Suriah, sehingga benar-benar tidak dapat diakses ke dunia luar. Presiden Putin, Rusia dan Iran bertanggung jawab untuk mendukung "hewan" Assad. Ada harga yang harus dibayar," ancam Trump di Twitter.