Kamis, 23 April 2026

Ketika Status Janda Dianggap Sial di India, Ini yang Dilakukan Mereka Mengisi Sisa Hidup

Para janda tersebut juga banyak ditolak masyarakat dan mereka ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka cintai.

bbc indonesia
Gayatri sedang melakukan puja (doa pagi) di ashram Meera Sahbagini, yang didirikan 60 tahun yang lalu dan merupakan rumah bagi 220 janda. 

Malu jadi janda

Kisah lainnya datang dari Shanti Padho Dashi.

Dia berusia 91 tahun dan tinggal di Ashram Meera Sahbhagni.

Dia adalah penduduk tertua ashram dan berasal dari Bengal Barat.

Dia datang ke Vrindavan 25 tahun yang lalu.

Ketika India menjadi lebih progresif, situasi bagi para janda secara perlahan menjadi lebih baik.

Tetapi rasa malu karena menjanda begitu kuat dan telah ada begitu lama sehingga tidak akan hilang dengan cepat, terutama di lingkungan pedesaan tradisional.

Berpakaian putih, para janda membeli sayuran di jalanan Vrindavan. Mereka selalu ditolak oleh masyarakat; karena mereka dianggap membawa kesialan, beberapa orang bahkan bersembunyi ketika mereka melihat seorang janda berjalan di jalanan. Foto: PASCAL MANNAERTS

Dilarang rayakan holi

Dalam beberapa tahun terakhir, LSM lokal, seperti Sulabh International, telah bekerja dengan para janda untuk tidak hanya memberikan dukungan keuangan, tetapi juga memimpin banyak proyek dan aksi media di seluruh negeri untuk meningkatkan kesadaran dan toleransi bagi orang-orang yang didiskriminasikan ini.

Di sini, para janda di asram Meera Sahbhagni merayakan Holi, festival warna di India.

Meskipun tradisi ortodoks melarang janda mengambil bagian dalam perayaan, mentalitas berubah dan para janda mulai menentang larangan.

Perayaan holi. Foto: PASCAL MANNAERTS

Holi dan signifikansinya secara keseluruhan dalam masyarakat India adalah kesempatan sempurna bagi para janda untuk menyatakan dengan keras dan jelas klaim mereka akan rasa hormat.

Selama Holi, hambatan sosial dipecah dan orang berpesta bersama-sama, tanpa memandang perbedaan usia, jenis kelamin dan status.

Ini adalah waktu ketika semua jenis kasta berbaur, di mana orang-orang yang lebih rendah memiliki hak untuk menghina orang-orang yang harus mereka tundukkan sepanjang tahun.

"Hari ini saya senang memiliki semua wanita di sekitar saya, saya tidak sendirian lagi," kata Prema, 60.

"Kami telah belajar untuk hidup bersama, untuk saling membantu. Kami menjadi teman, sahabat sejati, karena kami semua tahu apa yang telah kami alami. Kami melihat ke depan, kami mencoba untuk tidak pernah melihat ke belakang. Kami tidak pernah membicarakan masa lalu." (bbc indonesia)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved