Jumat, 17 April 2026

ANAMBAS TERKINI

Dulu Hanya Pelita, Sekarang Listrik Menyala Siang, Malam

"Kami bersyukur sudah bisa nikmati listrik yang menyala selama 24 jam," ujar wanita yang tinggal di RT 002 ini

Penulis: Thom Limahekin |
TRIBUNBATAM/THOM LIMAHEKIN
Maslina sedang berada di kedai makan miliknya di desa Temburun. 

"Alhamdulillah. Dulu pelita; sekarang bisa lihat listrik nyala siang dan malam," ujar Usi penuh rasa syukur.

Pria ini menceritakan, saat awal pemasangan jaringan PLN, listrik masih kerap padam sendiri atau padam lalu menyala lagi secara tidak menentu. Namun, lambat laun, kondisi itu berangsur normal; listrik menyala terus dan jarang padam.

Usi sendiri pun sadar betul akan kemampuan ekonominya. Karena itu, dia pernah membuat sebuah percobaan kecil dengan mengisi voucher listrik dengan nominal Rp 50 ribu. Dari percobaan ini, dia bisa mengukur berapa lama bisa menikmati listrik sesuai kemampuan keuangannya.

"Dari voucher Rp 50.000, saya bisa menikmati listrik selama 12 hari," sebut Usi.

Rosita (38) warga lainnya menambahkan, biaya penggunaan listrik dari PLN lebih terjangkau ketimbang generator pribadi. Dia memperkirakan, biaya operasional generator pribadi bisa mencapai Rp 500 riu selama sebulan. Biaya ini hanya mencakup pembelian bahan bakar solar dan belum terhitung harga minyak pelumas dan anggaran perawatan mesin.

"Waktu menyala pun terbatas, dari pukul 17.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Belum lagi kalau mesinnya rusak; kami tetap pakai pelita," ungkap wanita yang tinggal di RT 003 itu.

Layanan listrik PLN masuk desa ini mendorong mayoritas warga membuat dua meteran listrik di rumahnya. Satu meteran listrik memiliki bersumber dari listrik PLN dan satu meteran lagi bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro.

Hasmadi, Kepala Desa Temburun sudah pernah meminta petugas instalasi untuk memasang perangkat lama. Sebelumnya perangkat ini digunakan untuk jaringan listrik yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro.

Namun, petugas instalasi tidak berani mengambil risiko. Mereka justru menganjurkan pemilik rumah agar menggunakan perangkat baru untuk pemasangan instalasi listrik yang bersumber dari PLN.

"Biarpun begitu, kami tetap bersyukur. Listrik dari PLN bisa masuk ke desa kami, baru sekitar dua puluh hari terakhir," aku Hasmadi.

Kendatipun listrik baru masuk desa selama beberapa hari terakhir, namun tiang-tiang listrik sudah terpancang sejak pertengahan tahun lalu. Pemasangan jaringan ke rumah-rumah pun dilakukan secara bertahap untuk 130 kepala keluarga di desa itu.

Hasmadi memahami kondisi ini sebagai bagian dari sosialisasi PLN kepada masyarakat sejak jauh-jauh sebelum listrik masuk desa. Satu bentuk sosialisasinya adalah pemadaman listrik pada hari-hari tertentu pada saat warga menikmati listrik dari PLN.

"Warga harus merasakan juga pemadaman listrik bergilir. Ini merupakan suatu bentuk sosialisasi ketika ada proses perbaikan listrik," jelas Kepala Desa Temburun itu.

Temburun terletak di Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas. Desa ini berada dalam satu daratan dengan pulau Siantan, satu dari sekian pulau terluar yang langsung berbatasan dengan negara lain.

Di utara ada Filipina dan laut cina selatan. Di barat ada Singapura dan Malaysia. Sedangkan di timur ada Brunei Darusalam dan sebagian Malaysia.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved