BATAM TERKINI

Tiap Subuh Harus Menyapu Jalan di Simpang Basecamp. Ini Keluhan Wanita yang Tiap Hari Hadapi Risiko

Seorang wanita yang sehari-harinya menyapu jalan di Simpang Basecamp, Batuaji menuturkan, kegiatannya sehari-hari adalah menyapu di sepanjang jalan.

Tiap Subuh Harus Menyapu Jalan di Simpang Basecamp. Ini Keluhan Wanita yang Tiap Hari Hadapi Risiko
Tribunbatam.id/Dewangga
Seoarang wanita paroh baya menyapu jalan setiap hari di simpang Basecamp 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Seorang wanita yang sehari-harinya menyapu jalan di Simpang Basecamp, Batuaji menuturkan, kegiatannya sehari-hari adalah menyapu jalan di sepanjang jalan pahlawan sejak pagi hingga siang hari.

"Memang sehari-hari saya yang bersihkan daerah sini. Biasanya saya mulai kerja dari jam 06.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB siang. Kalau saya istirahat biasanya saya selesai pukul 14.00 WIB, tapi saya ngga istirahat biar cepat pulang," pungkasnya.

Dari debu jalanan, hingga risiko disenggol kendaraan sudah biasa dihadapi wanita yang berusia 53 tahun tersebut. Meskipun risiko kerja tinggi, A.S tetap tekun menjalani pekerjaan yang sudah lama digelutinya.

Baca: Hari Ini, 4 Terdakwa Pembawa 1,6 Ton Sabu Jalani Sidang Tuntutan

Baca: Pasar Mitra 2 Hadir di Batam Center, Rudi Ingatkan Masalah Kebersihan

Baca: Buralimar Optimis Target Kunjungan Wisman ke Kepri Tercapai, Turis Asal China Bisa Geser Malaysia

"Sudah hampir 13 tahun saya kerja di Pemko Batam, risiko-risiko begitu ya sering saya jumpai. Cuma apalah daya saya ini hanya rakyat kecil yang tidak dapat bersuara," ujarnya dengan wajah tertunduk lesu.

Dari pengamatan Tribun, A.S hanya menggunakan sandal dan tidak menggunakan alat pelindung diri yang maksimal. A.S mengaku dirinya kecewa dengan kebijakan Pemko Batam yang tidak mempedulikan tukang sapu seperti dirinya.

"Sekarang memang tidak ada kemanusiaan yang beradab, semenjak Rudi menjadi wali kota, saya tidak lagi mendapat baju dan sepatu yang seharusnya diberikan. Kalau dulu zamannya wali kota Ahmad Dalan, setahun itu saya bisa dapat 2-3 kali sepatu dan perlengkapan baju. Bahkan sepatu sampai numpuk di rumah," tuturnya.

Meskipun kecewa dengan kebijakan pemerintah Kota Batam, A.S harus tetap menjalani pekerjaaannya sebagai tukang sapu jalanan untuk melanjutkan kehidupan.

"Jujur saya kecewa, tetapi saya harus tetap bekerja untuk melanjutkan kehidupan," ujar ibu punya anak empat orang itu. (*)

Penulis:
Editor: Sihat Manalu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved