Kisah Juana Maria, Wanita yang Terdampar & Terisolasi di Pulau tak Berpenghuni Selama 18 Tahun
Kisah Juana Maria, Wanita yang Terdampar & Terisolasi di Pulau tak Berpenghuni Selama 18 Tahun
Kisah Juana Maria, Wanita yang Terdampar & Terisolasi di Pulau tak Berpenghuni Selama 18 Tahun
TRIBUNBATAM.id - Tidak ada satupun yang menginginkan untuk terdampar di pulau asing tak berpenghuni.
Menjalani hidup dalam kesendirian, mencari makan, membangun sebuah tempat tinggal tentu dilakukan seorang diri.
Harapan akan adanya kapal penyelamat yang lewat tentu selalu terlintas dibenak.
Kisah tersebut ternyata bukan bualan belaka, di dunia ini ternyata pernah ada orang yang terdampar di sebuah pulau sendirian dan bertahan hidup disana.
Dikutip Gridhot.ID dari Medium via Intisari, Jumat (10/5/2019), seorang wanita bernama Juana Maria adalah satu-satunya orang yang memiliki sejarah cukup aneh di dunia.
• UPDATE Hasil Real Count KPU Pilpres 2019 Jokowi vs Prabowo Senin (13/5) Pagi, Data Masuk 78,47%
• Viral di Medsos! Ini Fakta Pria Marah-marah di Gerai Indomaret Gara-gara Diberi Uang Rp 1.000
• Hasil Akhir AS Roma vs Juventus, Gol Cristiano Ronaldo Dianulir, Juventus Takluk 0-2 dari Tuan Rumah
• Fakta Baru! Hasil Otopsi Ungkap Penderitaan Vera Oktaria, Kasir Indomaret yang Tewas Dimutilasi
Kisahnya yang aneh tersebut diangkat dalam sebuah buku klasik berjudul Island of The Blue Dolphins, ditulis oleh Scott O'Dell.
Juana Maria merupakan seorang wanita muda yang tinggal seorang diri di sebuah pulau di Samudera Pasifik.
Diketahui Juana Maria dilahirkan pada awal abad ke-19, namun tak diketahui persis kapan ia lahir.
Ia menjadi terkenal setelah menghabiskan seluruh hidupnya terisolasi dari kontak manusia.
Pada tahun 1853, ia ditemukan dalam kesendirian dengan masa depan yang cukup singkat.
Sejarawan pun hanya mampu mengumpulkan sedikit fakta dan data tentang kehidupan Juana Maria.
Namun di balik itu semua, rupanya ada kehidupan tragis yang dilaluinya.
Beberapa hal yang diketahui yaitu, Juana Maria adalah anggota suku Nicolenos yang tinggal di Pulau San Nicolas salah satu dari Channel Island California.
Mereka tinggal disekitar sana pada 10 ribu tahun, namun sejarah panjang membuat mereka tak bisa melindungi diri dari tragedi.
Tahun 1811-1814, kemungkinan Juana Maria masih anak kecil ketika tragedi sekelompok pemburu menghancurkan penduduk setempat.

Populasi suku yang hanya 300 orang berkurang, pada tahun 1835 dan hanya tersisa 20 orang.
Kemudian, tahun 1835 suku Juana dipindahkan dari San Nicolas.
Namun satu hal yang diketahui adalah Juana Maria tidak dipindahkan dan tertinggal di pulau itu sendirian.
Satu hal yang terjadi saat itu, mungkin Juana tidak ada ketika proses evakuasi lantaran ia keluar mencari anaknya yang hilang.
Kisah lain menyebut Juana Maria melompat dari kapal karena percaya adiknya masuk di pulau itu.
Namun kapal dengan segera meninggalkan San Nicolas karena badai.
Setelah terdampar di pulau tak berpenghuni sendirian, pada 1853 seorang kapten kapal Peores Nada bernama George Nidever menemukan Juana Maria.
Kemudian dia menulisnya di dalam bukunya Kehidupan dan Petualangan George Nidever.
Nidever menggambarkan Juana Maria saat ditemukan sebagai 'wanita tua' yang sibuk membuang kotoran ikan paus.
Alih-alih melarikan diri saat ditemukan, Juana Maria justru tersenyum dan membungkuk, kemudian berbicara pada mereka dengan bahasa yang tidak bisa dipahami.

"Dia berusia sekitar 50 tahun, wajahnya menyenangkan dia terus tersenyum, pakaiannya terdiri dari satu pakaian kulit," tulis catatan Nidever.
Sulit untuk menjelaskan dampak total dari isolasi terhadap jiwa Juana Maria.
Namun banyak disebutkan jika ia berburu anjing laut dan bebek, hingga membuat rumah sendiri.
Saat penyelamat tiba tahun 1853, ia ditemukan telah membangun gubuk dari tulang ikan paus dan mungkin ia juga tinggal di gua sekitar lokasi itu.
Juana Maria tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun, dan tidak bisa dipahami.
Karena itu Juana Maria tidak bisa memberitahukan kisahnya yang mengerikan.
Dengan ditemukannya Juana Maria, hal itu memperkuat fakta jika ia adalah anggota suku terakhir yang ditemukan masih hidup.
Namun, setelah ditemukan dan melakukan kontak dengan manusia lagi tahun 1853, ia hanya bisa bertahan selama 7 minggu.
Selama hidup terisolasi, kekebalan tubuhnya cukup rentan, ia mengidap disentri dan meninggal secara tragis pada 19 Oktober 1853.
Pada dasarnya ia tidak pernah meninggalkan petunjuk apapun kecuali misteri di belakanya.
Uniknya tidak ada yang tahu nama aslinya.
Hanya saja, para pendeta Katolik memberinya nama Juana Maria setelah dia dibawa ke Mission Santa Barbara.
Beberapa benda yang dibawa bersamanya dari Pulau San Nicolas adalah jarum tulang yang mungkin digunakannya untuk membuat baju.
Sayangnya benda-benda itu disimpan di San Francisco dan hancur oleh gempa bumi pada tahun 1906.
Selain itu bajunya juga menghilang, setelah dikirim ke Vatikan.
Hal itu seolah membuat semua jejak dan sejarahnya telah menghilang dari muka bumi kecuali kisah-kisah tentangnya.
(Gridhot.ID/Candra Mega)