Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Bung Sjahrir, Simak Sejarah Kata 'Bung' pada Panggilan Tokoh
"Sejak itu untuk pertama kalinya telah lahir sapaan baru untuk pemimpinnya. Soekarno membiarkan dirinya disapa dengan Bung Karno," tulis Her Suganda.
Bandung yang merupakan tempat tinggalnya akhirnya jadi basis utama PNI.
"Ia membagi wilayah PNI cabang Bandung dalam enak wilayah politik, yakni Bandung utara, selatan, timur barat, hingga Bandung tengah dan sekitarnya," tulis Her Suganda.
Soekarno terus berkeliling di wilayah Bandung.
Inggit bahkan melukiskan kegiatan suaminya, Soekarno sebagai "kincir".
"Kami tidak berhenti berkeliling. Dari Cigolenteng ke Sukapasir. Dari Bojonggede ke Ujungberung di timur, terus ke Cisondari di Ciwidey," kata Inggit Garnasih.
Soekarno, di tempat-tempat itu rupanya menyampaikan pendidikan politik untuk kader-kader PNI.
Dalam pendidikan politik itulah, Soekarno kerap menggunakan Bahasa Sunda.
Kemampuan Bahasa Sunda rupanya dipelajari dari istrinya, Inggit Garnasih dan Ny. Suwarsih, istri sahabatnya guru di Perguruan Taman Siswa Bandung, Sugondo Djojopuspito.
"Jika ada pertanyaan yang tidak dimengerti, ia (Soekarno) segera menoleh dan meminta bantuan pada istrinya yang menjadi penerjemah," tulis Her Suganda.
Apa yang dilakukan Soekarno ternyata tak sia-sia.
Tak sedikit masyarakat Sunda di Bandung mengagumi cara Soekarno menyampaikan gagasannya.
Para pendukungnya merasa akrab dan dekat lantaran Soekarno kerap menggunakan Bahasa Sunda.
Hingga akhirnya, para pendukungnya itu tak lagi memanggil Soekarno dengan sebutan Ir Soekarno.
"Sejak itu untuk pertama kalinya telah lahir sapaan baru untuk pemimpinnya. Soekarno membiarkan dirinya disapa dengan Bung Karno," tulis Her Suganda.
Sapaan "Bung" ternyata menunjukkan keakraban dan kedekatan hubungan psikologis.
Menurut KBBI, "Bung" memang berarti sapaan akrab kepada seorang lelaki, atau yang sederajat dengan "abang".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/soekarno.jpg)