Mantan Pemimpin Kudeta Ini Terpilih Jadi Perdana Menteri Thailand
Keberhasilan Chan-o-cha dikarenakan dukungan 250 senat yang dipilih sendiri dan pengaruh swing voter
Selain itu, petahana berusia 65 tahun tersebut juga dianggap tak bisa menjembatani ketidaksetaraan hingga memulihkan perpecahan politik yang terjadi.
Setelah pemilihan, Juangroongruangkit menyatakan dia bakal "bekerja keras" untuk membentuk front demokrasi.
"Diktator tidak akan bisa menahan guncangan angin selamanya," tegas dia.
Dengan kritikan tajamnya terhadap militer maupun konservatif, miliuner berumur 40 tahun tersebut sering dianggap sebagai ancaman kuat bagi pihak yang berkuasa.
Meski begitu, kasus hukum yang menjeratnya membuat Juangroongruangkit terancam mendapat larangan berpolitik.
Atau yang paling parah, dijebloskan ke penjara. Para analis mengungkapkan Chan-o-cha, seorang figur militer yang tidak terbiasa untuk berdebat maupun membangun konsensus, bakal mempunyai banyak pekerjaan.
Para pengkritiknya seperti anggota parlemen Cholnan Srikeo menuturkan Chan-o-cha adalah sosok empunya "ide usang" yang justru berpotensi membahayakan negara.
Namun para pendukungnya memuji Chan-o-cha sebagai sosok yang bisa membawa Thailand dari krisis politik. Salah satunya Mongkolkit Suksintharanon.
"Saya bakal memilih Jenderal Prayut. Thailand sama sekali tidak mempunyai pengalaman," kata Kepala Partai Sipil Thailand yang merupakan sekutu junta tersebut.
Pakar Asia dari Council on Foreign Relations Karen Brooks berkata, sikap Juangroongruangkit yang menentang Chan-o-cha sebagai PM adalah tindakan yang "sia-sia".
"Namun sikap itu bisa menaikkan pamornya. Dan mungkin memberi kerugian bagi militer serta sekutunya ketika mereka berusaha menghancurkannya," papar Brooks. (Ardi Priyatno Utomo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/prayut-chan-o-cha.jpg)