Breaking News:

Jelang Sidang MK, Ketua KPU Arief Budiman Angkat Bicara, Terima SMS Caci Maki hingga soal Pengamanan

Jelang sidang MK, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman angkat bicara.

Tribunnews.com/ Vincentius Jyestha
Ketua KPU Arief Budiman 

TRIBUNBATAM.id - Jelang sidang MK, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman angkat bicara.

Arief Budiman bercerita ihwal pengalamannya saat bekerja dari awal tahun Pemilu sampai jelang rapat sidang Perselisihan Hasil Pemilu (PHPU), di gedung Mahkamah Kontitusi (MK).

Ketua KPU Arief Budiman  menyebut pernah mendapat pesan bernada amarah dan kecewa dari beragam pihak.

Menurutnya, hal itu tak membuat Arief Budiman ciut atau takut.

Kata dia, semua biasa saja.

"Biasa saja. Orang ada yang marah, kecewa, kan tinggal bagaimana kita merespon itu. Apakah kita baca saja sambil tersenyum. Atau kita baca sambil marah-marah lalu kita balas komentarnya itu kan tergantung kita sendiri. Kalau saya menghadapi yang seperti itu, biasa saja," kata Arief, di area Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (12/6/2019).

Sementara itu, guna mengantisipasi hal yang tak diinginkan, Arief menyatakan pihak aparat keamanan telah berjaga-jaga di area kantor KPU, Jakarta Pusat.

Sampai hari ini, Arief Budiman mengatakan, pada tiap-tiap rumah komisioner KPU juga dijaga oleh aparat keamanan.

"Pada pengamanan memang ada petugas kepolisian yang stand by di kantor KPU, ada yang ditempatkan di rumah dinas kita. Cuma mungkin jumlahnya agak bertambah dari hari-hari biasa. Tapi dibandingkan dengan saat rekap suara nasional, sebetulnya ini sudah jauh berkurang," kata Arief Budiman.

Arief melanjutkan, pihak KPU terus berkomunikasi ihwal proses pengamanan kantor dan komisioner KPU.

"Kalau soal itu ya memang mereka menyampaikan ke kita. Tapi soal strategi pengamanannya mau menerjunkan berapa orang, mau membawa peralatan apa, ditempatkan di mana, itu saya percayakan sepenuhnya kepada aparat keamanan. Karena mereka yang tahu dan ahli soal strategi pengamanan. Jadi pokoknya saya nyaman saja. Mau kerja pagi, siang, dan malam nyaman saja," ujar Arief.

"Saya bersama anggota KPU biasa saja, mau datang pagi, mau datang siang, sore, dan malam ke kantor itu nyaman saja. Mau mengerjakan kerjaan tuntas pagi, tuntas siang, yang penting kita merasa nyaman sampai hari ini. Tidak ada gangguan apa pun," lanjutnya.

Menurutnya, semua pihak yang terkait dalam Pemilu 2019 ini adalah saudara.

"Bagi saya, semua kawan. Baik itu penyelenggara Pemilu, peserta Pemilu, mau Pemilih, atau siapapun teman-teman media saya merasa tidak ada musuh. Karena semua sahabat saya, kawan saya, jadi saya santai saja. Mau pergi kemana-mana sendiri juga tidak apa-apa. Mau ke mana-mana pergi pakai motor juga biasa saja," kata Arief Budiman.

Soal keluarganya Arief Budiman mengaku, sudah terbiasa menghadapai pelbagai lontaran kalimat marah dan kecewa dari mana saja. Khususnya media sosial.

"Keluarga saya sudah terbiasa. Jadi, kadang mereka ikut merespon, kadang mereka diam saja. Sejauh ini ya aman-aman saja. Semua saling menghargai, saling menghormati, tidak mengganggu selama mereka tidak menganggu kita. Kalau komentar pendapat di media sosial itu ya biasa saja, semua orang harus bisa menerima itu," jelasnya.

Perihal komparasi tingkat ancaman pada 2014 silam dengan tahun 2019, lanjutnya, lebih masif di media sosial.

"Menurut saya sama, kualitas dan tekanannya sama. Cuma lebih masif di media sosial. Mungkin ribuan ada yang keberatan, mencaci maki, dan mengolok-olok. Walaupun ada juga yang memback up, menyanjung, dan berterima kasih. Tapi buat saya, semua itu saya perlakukan sama saja," kata Arief Budiman.

Justru, kata Arief Budiman, olok-olok dan caci dari masyarakat dipandang sebagai refleksi untuk memperbaiki diri.

"Terhadap olok-olok, caci maki, saya menjadikan hal itu sebagai koreksi diri. Jangan-jangan ada yang salah. Tetapi untuk yang menyanjung, biasa saja, itu justru membuat saya harus lebih waspada. Tidak terbuai dengan sanjungan, ucapan selamat, dukungan, biasa saja. Saya tidak menyikapi dua sisi itu secara berlebihan," ucapnya.

Jangan Lagi Menyelesaikan Persoalan di Jalanan

Menurut Arief Budiman, semua ruang amarah dan kekecewaan terhadap sesuatu sudah ada wadahnya. Yakni diutarakan melalui sosial media.

"Saya selalu mengatakan begini kepada semua pihak, pemilu kita baik tahap pelaksanaannya maupun regulasinya, sebetulnya sudah semakin baik. Semua hal yang memungkinkan orang kecewa, marah, kemudian mengajukan sengketa, itu kan ruangnya sudah disediakan," tuturnya.

"Jadi, karena ruangnya sudah disediakan oleh undang-undang, maka saya ingin mengingatkan, jangan lagi menyelesaikan persoalan di Jalanan. Karena ruang untuk menyelesaikan persoalan, sudah disediakan oleh undang-undang. Jadi menyelesaikan persoalan di jalanan, menurut saya tidak menyelesaikan persoalan," sambungnya.

Arief Budiman menambahkan, sejak dalam pikiran, dirinya sama sekali tak pernah punya niatan buruk.

Apalagi, kata Arief Budiman, memiliki niat jahat.

"Sejak dalam pikiran, saya tidak pernah punya niat buruk dalam menyelenggarakan pemilu ini. Saya tidak pernah punya niat curang, tidak pernah punya niat jahat. Saya ingin mengerjakan pemilu ini, pertama secara transparan, free, and fair. Saya ingin menyelenggarakan pemilu ini pemilu yang berintegritas. Kalau benar ya katakan benar, kalau salah ya katakan salah. Saya ingin membuat pemilu ini berkualitas. Ini penting, 2019 menjadi tonggak atau sejarah penting dalam Pemilu di Indonesia. Maka dia akan menjadi cermin dan model untuk pemilu-pemilu selanjutnya," kata Arief Budiman kepada TribunJakarta.com.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Cerita Ketua KPU Jelang Sidang MK, Dapat Pesan SMS Caci Maki hingga Tetap Berkantor Setiap Hari

Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved