Cerita Nelayan di Batam yang Resah dengan Proyek Reklamasi: Laut itu Priuk Nasi Kami!
Beberapa dari masyarakat mendukung proyek reklamasi, dengan alasan untuk kemajuan Kota Batam.Beberapa lainnya bersikeras untuk menolak.
TRIBUNBATAM.id. Ditangkapnya Gubernur Kepri (non-aktif), Nurdin Basirun, akibat kasus reklamasi di Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam, hingga kini masih menjadi perbincangan hangat masyarakat.
Berbagai tanggapan pun bermunculan, baik pro maupun kontra. Beberapa dari masyarakat mendukung proyek reklamasi, dengan alasan untuk kemajuan Kota Batam.Beberapa lainnya bersikeras untuk menolak.
Salah satunya Hasim, seorang nelayan di Kampung Tua Terih, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.
Kepada Tribun, Hasim menceritakan keresahannya terkait proyek reklamasi di Batam.“Laut itu priuk nasi kami para nelayan!” ujarnya membuka pembicaraan, Minggu (4/8/2019) siang.
Menurutnya, proyek reklamasi membuat ekosistem laut rusak.Sebagai nelayan, Hasim tak ingin ikut campur perihal kebijakan pemerintah terkait proyek ini.Namun, ia bersama nelayan lainnya berharap pemerintah tak melupakan warisan nenek moyang.
“Laut itu juga warisan nenek moyang kita dulu. Sekarang kami (nelayan) mau nyari ikan dimana? Kami Cuma bisa mencari rezeki dengan cara ini,” ungkapnya.
• Jangan Panik Saat saat Terjadi Rem Blong, Segera Lakukan Hal Ini
• Pria 21 Tahun Menyerahkan Diri Setelah Aksi Penembakan di Texas yang Tewaskan 20 Orang
• Spesifikasi Mi Bunny Children Phone Watch 3, Smartwatch Anak Terbaru Dari Xiaomi
• Harga Cabai Merah di Batam Semakin Pedas, Sekilo Dijual Rp 82 Ribu
Pria berumur 58 tahun ini pun mengatakan, pekerjaan sebagai nelayan telah menjadi tradisi bagi keluarga besarnya.Bahkan, pekerjaan ini pun kini dilanjutkan oleh anak-anaknya.
Apalagi, di usia senjanya kini, Hasim sudah tak mampu lagi untuk pergi menjaring ikan di laut.Ia menyebut, tak banyak anak nelayan di tempatnya menyambung hidup di beberapa perusahaan.
Jika ada, itu pun tak banyak dan menjadi rezeki Tuhan untuk mereka (anak nelayan).“Bakau dirusak, laut kena imbasnya.
Penimbunan dan pengerokan membuat laut tercemar, air pun keruh dan menguning,”Sambil sedikit menceritakan sejarah kampung tua tempatnya kini tinggal, Hasim menyebut banyak contoh dari meruginya masyarakat, terutama nelayan, akibat proyek ini.Ia juga menyebut, tahun 1980-an merupakan masa kejayaan para nelayan di Batam.
“Kalau dulu (masa kejayaan nelayan), kami bisa membawa pulang 50 kg ikan di sampan kami. Sekarang sedih betul, pernah Cuma dapat satu ekor,” terangnya dengan raut wajah sedih, berusaha kembali mengingat masa emas itu.
Keresahan para nelayan tak hanya milik Hasim, Karim, seorang nelayan asal Tanjung Uma, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, pun menyampaikan hal senada.
Baginya, dampak reklamasi tak hanya membuat nelayan kesusahan untuk mencari ikan, namun juga mendatangkan bencana lain, salah satunya sampah.
Ia mengaku, dirinya terakhir kali melihat dasar tanah tempatnya kini tinggal pada tahun 1985-an.
“Tahun 2000-an sampah sudah menumpuk. Dulu di Pasar Pujabahari itu bibir pantai tempat kami biasa menyandar,” terangnya.Ia juga menjelaskan, beberapa titik di tempat tinggalnya kini merupakan bagian dari proyek reklamasi, salah satunya adalah DC Mall Batam.