Rabu, 27 Mei 2026

Inovasi Teknologi, ATB Lebih Efisien Kelola Kebocoran

Teknologi SCADA memungkinkan petugas melakukan kendali dan pengawasan jarak jauh proses produksi dan distribusi yang berlangsung di setiap IPA

Tayang:
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA
Manager Produksi ATB sedang menjelaskan sistem SCADA. Teknologi SCADA memungkinkan petugas melakukan kendali dan pengawasan jarak jauh terhadap proses produksi dan distribusi yang berlangsung di setiap Instalasi Pengolahan Air (IPA), sehingga mampu menekan angka kebocoran hingga ke titik minimal. 

Saat ini 60-70 persen sistem pendistribusian dan pengawasan kebocoran air sudah dikontrol menggunakan sistem digital.

Sistem ini didukung dengan ratusan peralatan otomasi yang tersebar di titik-titik penting di Batam.

Integrasi SCADA dengan Geographic Information System (GIS) memungkinkan kontrol menjadi lebih mudah.

GIS membantu menyajikan pemetaan jaringan, lokasi loger, lokasi aset dan lokasi produksi. Sehingga memudahkan monitoring proses dan analisa lokasi dalam SCADA.

“Sudah ada peralatan-peralatan modern yang mengukur dan mengirimkan data tekanan air di ratusan titik di Batam. Jika ternyata tekanan berlebihan, kontrol buka tutup valve bisa dilakukan secara otomatis,” jelasnya.

Selain mengandalkan teknologi, tim yang kuat juga menjadi kunci ATB menjaga tingkat kebocoran.

ATB memiliki tim Leak Finding yang bekerja untuk menemukan kebocoran setiap harinya.

Tim ini bekerja menggali informasi dari setiap sumber yang melaporkan kebocoran.

Selain itu, ada pula tim Ilegal Disconection yang bekerja menanggulangi kebocoran komersial.

Tim ini aktif bergerak untuk mendeteksi kehilangan air akibat pencurian, perusakan meteran, dan aktifitas sejenisnya.

“ATB punya tim yang lengkap dalam hal penanggulangan kebocoran,” jelasnya.

Di sisi lain, masih ada PR besar yang harus diselesaikan untuk menekan angka kebocoran ini.

Menurut data yang dihimpun ATB, terdapat sekitar 400 sampai 500 titik kebocoran yang terjadi setiap bulannya.

Sekitar 70 persen dari kebocoran tersebut diakibatkan oleh pihak ketiga.

“Kebanyakan akibat kontraktor yang mengerjakan proyek infrastruktur,” jelasnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved