Breaking News:

OPINI

BJ Habibie dan Keberadaan

BJ Habibie telah lepas landas menuju keabadian. Beliau adalah Seorang tokoh jenius dan unik dengan prestasi-prestasi hidup luar biasa bagi bangsanya

BJ Habibie dan Keberadaan
ist
Mudhofir Abdullah, Guru Besar Ilmu Pengkajian Islam dan Rektor IAIN Surakarta

Saya membaca beberapa buku tentang kisah Habibie. Kisah hidupnya sangat inspiratif dan sangat menggugah. Episode demi episode kisahnya merupakan sebuah ‘journey of life’—meminjam istilah Martin Lings.

Bacaannya yang kuat dan luas serta pendidikan keluarga yang sangat disiplin adalah upaya-upaya Habibie mengisi eksistensinya hingga menjadi tokoh bangsa.

Perlu dicatat, eksistensi manusia mendahului esensinya. Sementara pada binatang, esensinya mendahului eksistensinya. Saat anak-anak manusia lahir, dia bereksistensi tapi tanpa esensi, sangat lemah dan tidak tahu apa-apa. Esensinya diisi dengan pendidikan, belajar, bekerja keras, dan riset dalam perjalanan hidup. Hanya dengan tahap-tahap seperti inilah, eksistensi manusia terisi esensinya. Jika tidak, manusia seperti seonggok daging berjalan tanpa esensi.

BJ Habibie telah meninggalkan jejak-jejak esensi sepanjang hidupnya selama 83 tahun dan akan terus ada dalam DNA sosiologis di masyarakat, meski pun secara eksistensial telah tiada.

Dalam jajaran tokoh Indonesia modern, Habibie telah mencatatkan sejarah emas. Di masa pemerintahannya yang singkat, Habibie telah membuka kran kebebasan pers dan berdirinya partai-partai.

Beliau juga telah berjasa membangun industri-industri strategis dan menyadarkan perlunya teknologi sebagai program pembangunan. Visi kebangsaannya adalah visi tentang Indonesia modern yang dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain, termasuk di bidang teknologi. Pesawat karyanya, Gatot Kaca, terbang di angkasa pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-50. Peristiwa ini dicatat sebagai peristiwa bersejarah.

Saya setuju pernyataan bahwa ‘the world history is the history of big man’. Sejarah dunia, pada dasarnya, adalah sejarah tentang ornag-orang besar. BJ Habibie adalah salah satu di antaranya. Namun demikian, penting untuk dicatat, tidak ada tokoh yang sempurna.

Setiap tokoh pasti punya kelebihan dan kekurangan. Kearifan bangsa mengajarkan agar kita pandai ‘mikul dhuwur, mendem jero’—menjunjung tinggi kebaikan, dan menyimpan dalam-dalam ketidaksempurnaan yang ada. Ini adalah ajaran luhur yang harus ditanamkan dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Semoga Allah swt, menempatkan alm BJ Habibie di tempat yang terbaik sesuai dengan dharma baktinya kepada bangsa, negara, agama, dan kemanusiaan.

(Guru Besar Ilmu Pengkajian Islam dan Rektor IAIN Surakarta. Jakarta, 13 September 2019)

Editor: Rio Batubara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved