Dukung Revolusi Industri 4.0 di Batam, ITEBA Jalin Kerjasama Dengan Apple Corporation
Dalam rangka mendukung program pemerintah Republik Indonesia itulah ITEBA telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait.
Sebab, Revolusi industri ke-3 ini kemudian melahirkan Society 4.0 di mana kegiatan bermasyarakat mulai menggunakan teknologi informasi sebagai nilai tambah untuk menghubungkan aset tidak berwujud dan menggabungkannya untuk membentuk jaringan informasi.
“Dimana-mana orang menggunakan aplikasi dari handphone hanya untuk, membooking tiket, membayar tagihan, dan lain sebagainya itu adalah bentuk dari terwujudnya Society 4.0. Apakah kita mau ketinggalan, sebab mau tidak mau zaman akan terus berputar,” ujarnya.
Sehingga di era Revolusi Industri ke-4 terjadi fusi berbagai kemajuan teknologi yang memiliki inovasi yang bergerak cepat dan semua serba terkoneksi.
• Ramalan Zodiak Asmara Kamis 19 September 2019, Aries Waspada Orang Ketiga, Libra Bikin Kejutan
• Kim Hanbin atau B.I Eks iKON Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka Dalam Kasus Narkoba 2016
Ini eranya IoT (internet of things), bahkan internet of everything yang ditandai dengan adanya kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence), self-driving car, big data, 3D printing, augmented reality, autonomous robot dan teknologi pintar lainnya.
Karena efeknya yang mendalam terhadap dunia industri khususnya penerapan komputer digital pada lini produksi, maka pada tahun 2014 Jerman memperkenalkan konsep Industry 4.0.
Asal mula Industry 4.0 terletak pada strategi teknologi tinggi Pemerintah Jerman yang memiliki salah satu prioritas di bidang ekonomi digital dan masyarakat.
Bidang ini menjadikan digitalisasi Industri Jerman sebagai topik yang sangat penting dan menonjol dan akhirnya menghasilkan istilah Industry 4.0.
Pada Industry 4.0, tidak hanya mesin tetapi hampir semua benda dilengkapi dengan sensor yang menghasilkan informasi tentang status atau lokasi mereka.
Ini berarti bahwa ada lebih banyak informasi yang tersedia daripada sebelumnya.
Karena antarmuka (interface) belum didefinisikan dengan jelas, maka jumlah informasi bertambah dan menjadi tidak mungkin untuk diproses oleh manusia.
Di sinilah kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) masuk.
Karena daya komputasi dua kali lipat dalam waktu kurang dari setiap dua tahun, maka kekuatan AI meningkat dengan sangat cepat.
"Ini membuka kemungkinan baru, tetapi juga bahaya baru," katanya.(siaran pers/ane)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/18092019_suasana-sidang-senat-terbuka-di-iteba.jpg)