32 Tahun Tragedi Bintaro, Masinis Slamet Suradio Kenang Tabrakan Maut Kereta
Delapan hari lagi tepat 32 tahun tragedi Bintaro terjadi atau tepanya pada 19 Oktober 2019.Begini pengakuan Slamet Suradio sang masinis
Akibat tabrakan itu, Slamet terpental di dalam lokomotif dan mukanya terkena remukan kaca.
Dalam keadaan setengah sadar, Slamet pun berusaha menyelamatkan dirinya.
"Kaki saya ngesot-ngesot tidak bisa jalan, akhirnya saya merambat melalui jendela," tutur Slamet.
Ia kemudian menjatuhkan diri ke tanah.
Dalam kondisi terluka parah, Slamet kemudian dibawa oleh seorang perempuan ke rumah sakit dengan mobilnya.
Meski wajahnya bersimbah darah, Slamet masih mengantongi PTP di sakunya.
PTP tersebut jadi satu-satunya bukti Slamet bahwa dirinya tidak bersalah.
Bercak darah di PTP itu membuat hakim percaya bahwa Slamet tidak loncat dari lokomotifnya.
"Jadi hakim percayanya saya tidak loncat itu karena ada bercak darah," ungkap Slamet.
Ia pun sedih dengan kabar yang berdedar bahwa ia meloncat dari lokomotif sebelum tabrakan untuk menyelamatkan diri.
"Makanya (isu) di internet itu yang buat siapa? Saya bingung itu, sedangkan hakim sendiri mengatakan (saya) nggak loncat," paparnya.
"Ada katanya saya loncat, itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah!" tandas kakek renta ini.
Penderitaan Slamet tak berhenti sampai di situ.
Ancaman demi ancaman terus didapat oleh Slamet atas kejadian itu.
Ia bahkan hampir diculik saat dirawat di rumah sakit yang kacanya sudah dipecah oleh seseorang.