Jumat, 29 Mei 2026

Pesan Pengusaha Batam ke Menteri Perindustrian, Semoga Ada Perubahan Regulasi

Kalangan pengusaha di Batam berharap kabinet Jokowi bisa membawa pengaruh positif bagi Batam.

Tayang:
ist
Presiden Jokowi mengumumkan kabinet, Rabu (23/10/2019) 

Tentu saja, harapan yang sama juga diberikan kepada jajaran wajah lama yang masih diberikan kepercayaan oleh Jokowi-Ma'ruf untuk memegang kementerian strategis bidang ekonomi, diantaranya Airlangga Hartarto, mantan Menteri Perindustrian yang ditunjuk menjadi Menko Perekonomian, kemudian Luhut Panjaitan yang diserahi tugas berat sebagai Menko Kemaritiman dan Investasi, serta Agus G. Kartasasmita sebagai Menteri Perindustrian, dan Agus Suparmanto, sebagai Menteri Perdagangan.

Wajar publik menaruh harapan besar kepada tim ekonomi Jokowi pada periode kedua ini, mengingat kinerja ekonomi pada periode pertama yang belum sepenuhnya memuaskan, terutama dalam hal meningkatkan arus investasi asing, ekspor, dan mendorong industrialisasi. Kendati pertumbuhan ekonomi secara makro masih bertahan pada level 5%, namun daya saing nasional masih keteteran jika dibandingkan dengan Vietnam.

Jokowi masih punya tugas berat, bayangan resesi dunia pada 2020 sudah di depan mata. Mau tak mau, Indonesia harus menyiapkan serangkaian kebijakan yang dapat meredam dampak resesi tersebut sehingga ekonomi nasional tetap terus tumbuh.

Prioritas utama tentu saja bagaimana agar daya saing Indonesia semakin kuat, salah satunya meningkatkan kualitas SDM sebagai motor penggerak pertumbuhan, kemudian mendorong reformasi birokrasi dan kemudahan pelayanan perizinan, dan meningkatkan kualitas infrastruktur dasar.

Komitmen Jokowi mengatasi masalah mendasar tersebut tentu tidak usah diragukan lagi. Dalam berbagai kesempatan, Presiden selalu mendorong pemerintah daerah agar menyusun rencana pembangunan yang selaras dengan kebijakan pusat agar upaya penguatan ini tidak hanya terhenti di level pusat tapi juga terintegrasi dengan daerah.

Harapan terbesar penguatan daya saing nasional sudah pasti tertuju kepada kawasan perdagangan bebas dan ekonomi khusus yang tersebar di 17 kawasan di Indonesia. Untuk ini, Jokowi memberikan perhatian khusus.

Saat ini Indonesia memiliki 5 kawasan perdagangan bebas dan 12 kawasan ekonomi khusus, namun performa ke-17 kawasan ini masih belum memuaskan terutama dalam mendorong arus investasi asing, kinerja ekspor, dan meningkatkan sektor industri.

Berbagai persoalan mendasar masih menghantui kawasan tersebut untuk berkembang. Salah satu contoh FTZ Batam. Selama 4 tahun terakhir masih larut dalam gonta ganti pimpinan, akibat kegagalan mencapai target pertumbuhan sebagaimana harapan presiden Jokowi.

Problem dualisme kewenangan antara Pemko dan BP Batam akhirnya diselesaikan dengan menunjuk Walikota ex-officio Kepala BP Batam. Peraturan Pemerintah Nomor 62 tahun 2019 yang ditandatangani Presiden Jokowi pada pertengahan bulan lalu tentu menjadi antiklimaks agar problematika tersebut tidak semakin berlarut-larut.

Penulis berharap arah pengembangan Batam ke depan akan semakin jelas, jika melihat komposisi tim ekonomi Pemerintahan Jokowi – Ma'ruf pada periode kedua ini. Airlangga Hartarto yang memiliki latar belakang yang kuat di bidang industri sangat cocok memimpin Kementerian Perekonomian.

Kelak, Airlangga akan menjadi Ketua Dewan Kawasan FTZ Batam sehingga memiliki keleluasan untuk menyusun rencana strategis masa depan. Keputusan Jokowi menunjuk Airlangga tentu selaras dengan keinginan Presiden untuk memperkuat industrialisasi tidak saja di kawasan khusus tapi juga secara nasional.

Perlu diingat, tantangan Indonesia di kancah perdagangan global semakin berat terutama pasca perang dagang AS – China yang belum ada tanda akan berakhir. Indonesia harus mengambil keuntungan dari kondisi ini dengan memberikan alternatif lokasi investasi baru bagi industri yang hengkang dari kedua negara tersebut.

Namun tanpa ada perbaikan daya saing maka sulit untuk mewujudkan keinginan tersebut. Apalagi era Global Value Chain (GVC) saat ini mendorong banyak negara untuk semakin efisien dalam proses produksi. Proses manufaktur produk tidak lagi bisa berdiri sendiri, semua saling terhubung.

Bagaimana Indonesia bisa bersaing jika kita masih menghadapi problem mendasar dalam sektor logistik dan kepelabuhanan. Ini masih dialami pelaku industri di Batam, masalah logistik berbiaya tinggi belum juga menemui jalan pemecahan.

Airlangga tidak sendiri, dia dibantu Luhut Panjaitan sebagai Menko Kemaritiman dan Investasi. Selama ini publik sudah memaklumi peran strategis luhut dalam mendobrak kebuntuan birokrasi di tingkat pusat dan daerah, terutama bagi investor besar yang ingin menanamkan modal di daerah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved