HARI GURU 2019

Cerita Guru Honorer, 10 Tahun Mengajar Hanya Digaji Rp 800 Ribu

Masih banyak kisah kehidupan guru yang masih jauh dari kata layak dan cukup demi memperjuangkan anak muridnya bisa mendapat pendidikan.

Cerita Guru Honorer, 10 Tahun Mengajar Hanya Digaji Rp 800 Ribu
KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATON
Guru honorer Bertha Buadera saat mengajari anak muridnya di SD Filial 004 Samarinda Utara di Kampung Berambai, Selasa (12/11/2019) 

TRIBUNBATAM.id - Peringatan Hari Guru Nasional tak hanya dimaknai dengan menyanyikan lagu Hymne Guru.

Di balik, itu masih ada kisah-kisah kehidupan guru yang masih jauh dari kata layak dan cukup demi memperjuangkan anak muridnya bisa mendapat pendidikan.

Seperti kisah guru honorer Bertha Buadera, saat mengajari anak muridnya di SD Filial 004 Samarinda Utara di Kampung Berambai.

Setiap pagi pukul 05.00 Wita, Bertha Bua'dera harus bangun menyiapkan sarapan keluarganya. Setelah beres, wanita paruh baya ini harus siap-siap menuju SD Filial 004 Samarinda Utara, tempat dia mengajar.

Wanita berusia 56 tahun ini harus berjalan kaki dari rumahnya di tengah hutan menuju Kampung Berambai yang berjarak dua kilometer. Kampung kecil itu di bagian timur Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Bersisian dengan Desa Bangun Rejo (L3), Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar). Tak jarang dia menemukan ular saat melintasi jalan setapak menyusuri hutan.

Rutinitas itu dijalani Bertha selama 10 tahun sejak 2009. Saat jadi guru honor pertama kali, Bertha menerima gaji Rp 150.000. Setiap berganti tahun, gaji Bertha naik Rp 100.000.

Hingga kini, ia memperoleh gaji Rp 800.000 setiap bulannya. Bertha hidup bersama suami dan seorang putra.

Uang Rp 800.000 yang ia terima setiap bulan tak mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Bertani dan berjualan

Bertha dan suami mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani.

"Biasa pulang sekolah saya jualan pisang, ubi, dan sayur-sayuran di pasar malam," kata Bertha sebagaimana dikutip dari Kompas.com, beberapa hari lalu.

Bertha kadang mengeluhkan penghasilannya kepada kepala sekolah SD 004, tetapi diminta bersabar. Nasib serupa juga dialami teman seprofesinya, Herpina.

Wanita berusia 24 tahun ini mengajar di sekolah yang sama tahun 2015. Masuk pertama, digaji Rp 400.000. Kini jalan lima tahun mengajar, gajinya naik Rp 700.000.

Herpina tinggal di Desa Bangun Rejo berjarak 8 kilometer ke sekolah. Beda dari Bertha, setiap pagi Herpina menggunakan sepeda motor. Dia juga masih mahasiswa, jadi energik.

Setiap hari pukul 07.00, keduanya sudah harus sampai di sekolah untuk mengajar 17 murid. Satu murid duduk di kelas I. Tiga murid duduk di kelas II, III, IV, dan V, sedangkan kelas VI ada empat murid.

Mengajar di pedalaman memang makan hati

Sekolah ini hanya satu gedung, dibagi tiga ruang sekat tripleks. Satu ruang guru, dua ruang sisanya untuk belajar mengajar.
Satu ruang diisi tiga kelas sekaligus, Kelas I, II, dan III. Satu ruang lagi diisi kelas IV, V, dan VI.

Tugas Bertha mengajar kelas I, II, dan III dalam satu ruang untuk semua mata pelajaran. Sedangkan Herpina mengajar kelas IV, V, dan VI. Tugas ini dijalani hingga bertahun-tahun. Bertha dan Herpina tak banyak mengeluh dan harus menjalani rutinitas ini. Mengajar di sekolah di daerah pedalaman memang makan hati.

"Fasilitas kurang. Kami mau praktik susah. Sementara di buku kurikulum menganjurkan banyak praktik," kata Bertha.

Bagi Bertha, tenaga honorer dan PNS mempunyai beban kerja yang sama. Bahkan, tenaga honorer lebih terbebani jika menghadapi murid yang di daerah pelosok.

"Kami di sini walau murid sedikit, tapi ada murid yang diajar berulang-ulang tulis ABCD saja tidak bisa. Kami harus mengulang itu terus, sementara murid lain terabaikan," jelasnya.

"Kadang kami baru ajar cara pegang pensil/pulpen lalu baca tulis ABCD, sekolah lain sudah tengah semester. Kami selalu tertinggal di pelosok ini," tambah Herpina.

Fasilitas kurang, tak ada listrik

"Anak-anak di sini lambat. Mereka tidak pernah TK. Di rumah pun tidak diajarkan orang tua, jadi sangat kaku pegang pensil. Beda dengan anak-anak di kota," sambung Bertha.

Belum lagi keterbatasan fasilitas pendukung, seperti alat-alat praktikum. Dalam Pedoman Kurikulum 2013, ada banyak sesi praktik yang harus diajarkan kepada anak-anak, padahal SD Filial ini tak mempunyai alat yang memadai.

"Contoh sederhananya, alat timbang. Bagaimana anak-anak tahu ukuran ons, gram, kilogram, dan lain-lain kalau alat buat praktik saja tak ada," keluh Bertha.

Bahkan, aliran listrik saja tak ada di SD ini hingga saat ini. Setiap malam sekolah gelap gulita tanpa secuil penerangan.

(Kontributor Samarinda, Zakarias Demon Daton)


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Guru Honorer di Samarinda, Ke Sekolah Jalan Kaki 2 Km, 10 Tahun Mengajar Digaji Rp 800.000", https://samarinda.kompas.com/read/2019/11/13/07415911/cerita-guru-honorer-di-samarinda-ke-sekolah-jalan-kaki-2-km-10-tahun?page=all

Editor: Dewi Haryati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved