HARI AIDS SEDUNIA

6.727 Warga Batam Positif HIV dan 816 Meninggal, Data Ini Akan Bertambah Jika Warga Periksakan Diri

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Batam, tercatat sebanyak 6.727 warga Batam terjangkit Human Immunodeficiency Viruses (HIV). dan sebanyak 816 or

6.727 Warga Batam Positif HIV dan 816 Meninggal, Data Ini Akan Bertambah Jika Warga Periksakan Diri
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA/FREEPIK.COM
Ilustrasi Hari AIDS Sedunia 

TRIBUNBATAM.id, BATAM – Penularan penyakit HIV/AIDS di Kota Batam ternyata cukup banyak. Setidaknya dari data yang didapat sekitar 6.727 Warga Batam Positiv HIV/ AIDS.

Dari data tersebut, juga diketahui ada sekitar 816 orang meninggal dunia.

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Batam, tercatat sebanyak 6.727 warga Batam terjangkit Human Immunodeficiency Viruses (HIV). dan sebanyak 816 orang diantaranya harus kehilangan nyawa akibat virus berbahaya ini.

Bahkan, hampir tahun ke tahun, virus atau penyakit ini terus berkembang di Kota Batam.

Jumlah Investor Baru BEI Sepanjang 2019 Lampaui Capaian Tahun Lalu 

Hari Aids Sedunia, 816 Orang di Batam Meninggal Akibat Aids Selama 2019

Seperti penuturan Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Batam, Piter P. Pureklolong, Jumat (29/11/2019) sore.

“Kami mencatat perkembangan virus ini paling tinggi di Batam pada tahun 2012, 2013, 2014 dan 2015. Masing-masing tahun sekitar 500 orang yang terjangkit. Tidak hanya di Batam, penyakit atau virus ini di Indonesia bahkan di dunia pun juga terus naik,” ungkapnya saat ditemui Tribun Batam.

Dia pun mencatat, sebanyak 2.501 orang di Batam pun juga positif virus Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

“Jadi ODHA (Orang Dalam HIV/AIDS) ini memang terus ada di Batam. Semakin secara sukarela mereka ikut tes untuk mengecek, maka akan ada pula kasus baru. Di Batam sendiri, virus ini telah berkembang di tahun 1992,” sambungnya.

Balon Wali Kota Batam Helmy Kembalikan Berkas ke Hanura; Semoga Hanura Pilih Sesuai Hati Nurani

Kepada Tribun Batam, Piter menceritakan pula sejarah virus ini pertama kali berkembang di Batam.

Dari ceritanya diketahui jika penyebaran virus ini pertama kali terjadi di salah satu pulau tak jauh dari Pualu Belakang Padang, Kota Batam.

Saat itu, salah seorang warga negara asing membawa virus ini ke Batam.

“Ditemukan di Mat Belanda, salah satu lokalisasi di Batam. Masa itu, virus ini dari sana. Jika mengacu di dunia, penyakit ini diketahui sejak tahun 1983 setelah ditemukan di Gunung Sahara,” terangnya sambil mengatakan jika lokalisasi Mat Belanda itu masih aktif sejak saat ini walau populasinya semakin sedikit.

Sedangkan untuk di Indonesia, menurutnya diketahui pertama kali perkembangannya saat seorang warga negara asal Belanda positif mengidap penyakit ini setelah dibawa ke salah satu rumah sakit di Bali.

Berkembang sejak tahun 1992 di Batam, Piter mengungkapkan virus ini baru mendapat perhatian serius setiap pihak terkait pada awal tahun 2000-an.

“Jadi, seluruh kita memang harus aware terhadap gejala serta dampaknya. Namun, kesadaran itu ditanamkan tidaklah mudah. Perlu pendekatan yang benar-benar maksimal agar seluruh masyarakat tahu betul,” pungkasnya. (tribunbatam.id/ichwannurfadillah)

Penulis: Ichwan Nur Fadillah
Editor: Eko Setiawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved