Rupiah Terus Melemah, 2 dari 6 Bank Nasional Mulai Jual Dolar diatas Rp14.200, Apa yang Terjadi
Usai pelantikan Jokowi-Ma’ruf, 23 Oktober 2019 lalu, mata uang Garuda sempat perkasa di level Rp13.900.
"Anda lihat saja. Apa yang akan terjadi, terjadilah," tegas Geng Shuang.
Ada apa?
Pengamat pasar uang dan investasi M Noor Korompot (51), memperkirakan, tren melemahnya Rupiah bisa berlanjut hingga tahun 2020.
Kondisi ini kata dia lebih mengkhawatirkan, sebab saat ekonomi nasional stagnan, harga jual emas juga naik.
Menururnya, jika bank besar mulai menaikkan harga jual dolar, dan diikuti tren pembelian Dolar Amerika, Dolar Singapura dan Euro, di money changer di Jakarta, Bali, Batam dan Surabaya juga naik, maka ini alamat nilai dolar akan terus naik.
“Akhir tahun memamg selalu ada pelemahan. Tapi kondisi kali ini berbeda. Pasar dan ekonomi domestik masih stagnan, dan perang dagang China vs Amerika tak mereda, justru kian panas akhir tahun ini,” ujar eks jurnalis senior Bisnis Indonesia ini.
Merefleksikan kondisi serupa di akhir tahun 2018 lalu, Korompot menyebut jelang tutup tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menguat.
Di akhir lalu, kurs rupiah lebih kuat dari proyeksi pemerintah dalam asumsi APBN 2019.
Asumsi kurs rupiah sempat dipatok Rp14.400 per dolar AS, sama seperti asusmi APBN tahun 2020.
Namun, karena menjelang momen politik Pemilu dan Pilpres April 2019, pemerintah asusmi itu direvisi menjadi Rp15.000 per dolar AS.
Asumsi jauh lebih pesimistis dibandingkan APBN 2018 di level Rp13.400 per dolar AS.
Sebagai informasi, dalam RAPBN 2020, pemerintah telah mengusulkan sejumlah asumsi makro, di antaranya target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen, inflasi 3,1 % , nilai tukar rupiah Rp14.400 per dolar Amerika Serikat (AS), dan suku bunga SPN 3 bulan sebesar 5,4 % .
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/dolar-vs-rupiah_20180905_224547.jpg)