Rupiah Terus Melemah, 2 dari 6 Bank Nasional Mulai Jual Dolar diatas Rp14.200, Apa yang Terjadi
Usai pelantikan Jokowi-Ma’ruf, 23 Oktober 2019 lalu, mata uang Garuda sempat perkasa di level Rp13.900.
TRIBUN-BATAM.id — Nilai tukar Rupiah atas Dolar Amerika, terus melemah dua bulan terakhir.
Hingga Sabtu (30/11/2019), kurs tengah Bank Indonesia tercatat Rp 14.102 atau naik 2,99 dari hari sebelumnya.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan akhir pekan ini, melemah 0,04 persen ke level Rp 14.100 per dolar AS.
Situs online kursonline, BI sudah menjual 1 Dolar Amerika dihargai Rp14.172.
Bahkan, 2 (Mandiri dan CIMB) dari 6 bank papan atas Indonesia lainnya (BCA, BNI, Panin, BRI), sudah menjual satu dolar diatas Rp14.200 hingga Rp14.230.
Dua mata uang yang juga banyak diperdagangkan di Indonesia, Dolar Singapura (Rp10.378) menguat 2,20 hingga 3,31 dibanding periode sebelumnya.
• Mata Agnez Mo Berair saat Luapkan Emosi Nasionalisme ke Deddy Corbuzier; Ada Apa?
• Siswi SD di Batam Kritik Kaum Milenial Lewat Lagu
Euro (Rp15.606) bahkan menguat dramatis 11,82.
Usai pelantikan Jokowi-Ma’ruf, 23 Oktober 2019 lalu, mata uang Garuda sempat perkasa di level Rp13.900.
Namun, 3 pekan terakhir, sejak 8 November 2019, tren rupiah terus melemah atas dolar AS.
Efek Perang Dagang
Pelemahan rupiah terimbas keputusan Presiden AS Donald Trump meneken Undang-Undang yang mendukung demonstran Hong Kong.
Sejumlah media asing berpengaruh, menyebut; langkah Trump mengesahkan UU penegakan hak asasi manusia dan demokrasi Hong Kong membuat Beijing geram.
Redaktur di tabloid Global Times (media berafiliasi ke pemerintah China), Hu Xijin, mengungkapkan Pemerintah Beijing akan memberikan balasan dengan melarang orang-orang yang terlibat dalam pembuatan UU tersebut masuk ke wilayah China.
"Menurut apa yang saya tahu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Presiden Trump dan rakyat AS, China sedang mempertimbangkan untuk melarang orang-orang yang menyusun UU hak asasi manusia dan demokrasi di Hong Kong ke daftar hitam. Mereka tidak bisa masuk ke China, Hong Kong, dan Makau," ungkap Hu dalam cuitan di Twitter.
Pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, seperti dikutip dari Reuters, justru kian menunjukkan ketegangan ekonomi global tak kunjung mereda.
"Anda lihat saja. Apa yang akan terjadi, terjadilah," tegas Geng Shuang.
Ada apa?
Pengamat pasar uang dan investasi M Noor Korompot (51), memperkirakan, tren melemahnya Rupiah bisa berlanjut hingga tahun 2020.
Kondisi ini kata dia lebih mengkhawatirkan, sebab saat ekonomi nasional stagnan, harga jual emas juga naik.
Menururnya, jika bank besar mulai menaikkan harga jual dolar, dan diikuti tren pembelian Dolar Amerika, Dolar Singapura dan Euro, di money changer di Jakarta, Bali, Batam dan Surabaya juga naik, maka ini alamat nilai dolar akan terus naik.
“Akhir tahun memamg selalu ada pelemahan. Tapi kondisi kali ini berbeda. Pasar dan ekonomi domestik masih stagnan, dan perang dagang China vs Amerika tak mereda, justru kian panas akhir tahun ini,” ujar eks jurnalis senior Bisnis Indonesia ini.
Merefleksikan kondisi serupa di akhir tahun 2018 lalu, Korompot menyebut jelang tutup tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menguat.
Di akhir lalu, kurs rupiah lebih kuat dari proyeksi pemerintah dalam asumsi APBN 2019.
Asumsi kurs rupiah sempat dipatok Rp14.400 per dolar AS, sama seperti asusmi APBN tahun 2020.
Namun, karena menjelang momen politik Pemilu dan Pilpres April 2019, pemerintah asusmi itu direvisi menjadi Rp15.000 per dolar AS.
Asumsi jauh lebih pesimistis dibandingkan APBN 2018 di level Rp13.400 per dolar AS.
Sebagai informasi, dalam RAPBN 2020, pemerintah telah mengusulkan sejumlah asumsi makro, di antaranya target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen, inflasi 3,1 % , nilai tukar rupiah Rp14.400 per dolar Amerika Serikat (AS), dan suku bunga SPN 3 bulan sebesar 5,4 % .
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/dolar-vs-rupiah_20180905_224547.jpg)