HARI INFANTERI 2019
HARI JUANG KARTIKA - Ketika 'Raksasa Perang Dunia' Ditaklukan 4 Hari 4 Malam di Pertempuran Ambarawa
Pasukan TKR bertempur habis-habisan melawan tentara Inggris yang diperkuat pasukan Gurkha di Ambarawa.
Insiden lain terus berlanjut, pemuda Indonesia mulai mengambil sikap dengan menyerang tentara Belanda. Para pemuda Indonesia juga mengambil alih penyimpanan senjata milik Jepang yang dikuasai Belanda.
Karena situasi memanas, pada 20 Oktober 1945, kapal HMS Grenroy milik Inggris merapat di Pelabuhan Semarang. Inggris mendaratkan satu batalyon tentara elite Gurkha yang memiliki pengalaman tempur.
Mereka diperkuat dengan brigade artileri dan bantuan belasan pesawat terbang serta kapal penyerang HMS Sussex.
Indonesia tak gentar. Tiga batalyon dari Resimen Kedu, enam dari Purwokerto, tujuh dari Yogyakarta, satu resimen gabungan dari Solo dan empat Balalyon Divisi Salatiga diturunkan.
Kekuatan ditambah dengan laskar rakyat yang semakin menambah daya gedor pasukan Indonsia.
Pada 11 Desember 1945, Panglima Besar Jenderal Sudirman yang kala itu masih berpangkal kolonel mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar.
Kehadiran Sudirman ke Ambarawa bertujuan membangkitkan semangat TKR dan rakyat setelah gugurnya Letkol Isdiman pada pertempuran sebelumnya.
Bertempur habis-habisan
Pasukan TKR bertempur habis-habisan melawan tentara Sekutu yang diperkuat pasukan Gurkha. Kolonel Sudirman memerintahkan TKR untuk secepat mungkin mengusir Sekutu bersama Belanda keluar dari Ambarawa.
Pada 12 Desember 1945 sekitar pukul 04.00 WIB, pertempuran di Ambarawa berkobar. Serangan dilakukan serentak dan mendadak dari semua sektor secara berlapis.
Taktik ini disebut oleh Sudirman sebagai taktik Supit Urang atau taktik mengunci atau mengurung lawan. Akibat serangan ini, pasukan Sekutu benar-benar terkunci lantaran suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya di Semarang putus sama sekali.
Ungaran dibombardir oleh pesawat Sekutu agar bisa membuka jalan bagi pasukannya agar bergerak bebas ke berbagai penjuru. Bahkan, serangan udara diperluas sampai Solo dan Yogyakarta.
Semangat TKR dan laskar rakyat Indonesia tetap berkobar hingga pada akhirnya mampu mengusir pasukan musuh dari Ambarawa. Perlawanan yang diberikan oleh rakyat Indonesia memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang dilakukan dengan bersama-sama akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Pada 15 Desember 1945, akhirnya sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa benar- benar bisa direbut kembali. TKR membuktikan dirinya bahwa mampu memukul mundur meski tak memiliki persenjataan sehebat musuh.
Monumen Palagan Ambarawa
Karena dampak yang ditimbulkan dalam pertempuran di Ambarawa dianggap signifikan dalam berbagai aspek, maka Presiden kedua RI Soeharto membangun sebuah monumen untuk memperingati peristiwa bersejarah itu.
Dilansir dari Harian Kompas terbitan 16 Desember 1974, Soeharto memganggap pertempuran empat malam pada 11-15 Desember 1945 merupakan lembaran istimewa dalam sejarah bangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/14-12-2019-kisah-pertempuran-ambarawa.jpg)