Selasa, 21 April 2026

Amerika Serikat dan Iran Diambang Perang, PM Malaysia Serukan Negara Muslim Bersatu

Negara-negara muslim harus bersatu untuk melindungi diri dari ancaman luar', sebuah pernyataan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Mahathir Mohamad

kompas.com
Mahathir Mohammad/ Amerika Serikat dan Iran Diambang Perang, PM Malaysia Serukan Negara Muslim Bersatu 

"Waktu yang tepat bagi negara-negara muslim untuk berkumpul," kata Mahathir seperti dikutip Reuters dan ChannelNewAsia, Selasa (7/1/2020).

“Kita tidak lagi aman sekarang. Jika ada yang menghina atau mengatakan sesuatu yang tidak disukai seseorang, tidak apa-apa bagi orang dari negara lain untuk mengirim drone dan mungkin menembaki saya," ujarnya.

Komandan Pasukan Quds Iran, Qasel Soleimani (kiri) dan Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (kanan).(twitter.com/ur_khamenei) Komandan Pasukan Quds Iran, Qasem Soleimani (kiri) dan Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (kanan).(twitter.com/ur_khamenei) (twitter.com/ur_khamenei)

Demonstrasi di Malaysia

Sekitar 50 orang termasuk perempuan yang mengenakan burqa berkumpul di luar Kedutaan Iran di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, untuk mengkritik tindakan Amerika.

Mahathir sendiri telah berusaha mempertahankan hubungan baik dengan Iran meskipun ada sanksi AS terhadap negara Timur Tengah tersebut.

Sementara itu, di Malaysia sendiri diperkirakan 10.000 warga negara Iran tinggal dengan beragam aktivitas.

Pada bulan lalu, Mahathir juga menjamu Presiden Iran Hassan Rouhani di sebuah konferensi para pemimpin muslim di Malaysia di mana mereka membahas peningkatan bisnis, perdagangan mata uang dan bersaing dengan negara-negara lainnya.

Sebelumnya, komentar Mahathir baru-baru ini hadir merespon perlakuan terhadap warga muslim di India dan kritiknya terhadap Organisasi Kerjasama Islam yang berbasis di Arab Saudi.

Hal ini dianggap telah merusak hubungan Malaysia dengan New Delhi dan Riyadh.

"Aku berbicara yang sebenarnya," kata Mahathir. 

"Kamu melakukan sesuatu yang tidak benar, aku pikir aku punya hak untuk berbicara," katanya.

AS Kirimkan Pasukan ke Timur Tengah

Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengirim sekitar 3,000 pasukan militer ke kawasan Timur Tengah beberapa jam setelah serangan AS terhadap Jenderal Pasukan Al-Quds, Qasem Soleimani.

Pengiriman 3000 pasukan AS ke Timur Tengah ini merupakan pasukan tambahan, dilaporkan oleh tiga pejabat pertahanan dan seorang pejabat militer AS yang dikutip NBC News, (4/1/2019).

Sebelumnya, AS telah mengirimkan pasukan militernya ke Timur Tengah usai ribuan orang massa menyerbu kompleks pertahanan AS.

Pengerahan pasukan militer tambahan berasal dari brigade pasukan udara 82nd Airbone Division yang berbasis di Fort Bragg, North Carolina, Amerika Serikat.

Sumber: TribunnewsWiki
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved