Minggu, 19 April 2026

Hari Dharma Samudera, Kisah Heroik Yos Sudarso dan KRI Macan Tutul Tantang Belanda di Laut Arafuru

Hari Dharma Samudera adalah peringatan perjuangan dan pengorbanan pahlawan bahari Komodor Yos Sudarso dan pasukan di KRI Macan Tutul.

Kolase/Wikipedia
Yos Sudarso dan KRI Macan Tutul 

Yos Sudarso kemudian memerintahkan KRI Macan Tutul untuk pasang badan agar dua kapal lainnya bisa bisa meninggalkan medan pertempuran.

Tembakan pertama yang dilakukan kapal perusak Belanda itu meleset mengenai KRI Macan Tutul.

Di kesempatan berikutnya, tembakan yang dilakukan kapal perusak Belanda akhirnya tepat mengenai badan kapal KRI Macan Tutul yang bernomor lambung 650 tersebut.

Gugurnya Yos Sudarso

Yos Sudarso (Wikipedia)

KRI Macan Tutul buatan Jerman Barat itu akhirnya terbakar dan perlahan-lahan karam ke dasar Samudera bersama 24 kru kapal.

Kru lainnya yang selamat menjadi tawanan Belanda. Kalimat terakhir dari komodor Yos Sudarso sesaat sebelum kapalnya karam yaitu ‘Kobarkan semangat pertempuran‘ ia pekikan melalui radio ke dua kapal lainnya yang berhasil selamat.

Masa Kecil Yos Sudarso

Yosaphat Sudarso atau lebih dikenal Yos Sudarso adalah salah satu orang hebat di kalangan AL Indonesia.

Beliau lahir dari keluarga terdidik dengan ayah bernama Sukarno Darmoprawiro yang berprofesi polisi dan ibu bernama Mariyam.

Sejak kecil, Yos Sudarso sudah dididik dengan keras oleh ayahnya sehingga menjadi pribadi yang cerdas, tegas, dan memiliki sopan santun yang tinggi.

Setelah menamatkan HIS yang setingkat dengan SD, Yos Sudarso ke Muntilan untuk masuk sekolah guru.
Sayangnya saat Jepang masuk negeri ini, beliau tidak bisa melanjutkannya.

 

Selepas dari sini, Yos Sudarso masuk ke Sekolah Tinggi Pelayaran dan akhirnya menjadi lulusan terbaik.

Dari sini, karier di dunia pelayaran Yos Sudarso dimulai setelah bergabung menjadi mualim di Kapal Goo Osamu Butai pada tahun 1944.

Komodor Yos Sudarso yang semasa kecil bercita-cita sebagai prajurit itu akhirnya gugur di lautan dalam mempertahankan kedaulatan republik Indonesia.

Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Kustini dan lima orang anak.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved