Bukan MERS dan Flu Burung, Virus Misterius dari China Sebabkan Kematian, Dunia Waspada
Virus misterius dari China bernama coronavirus dan diberi nama 2019-nCoV sedang menuai perhatian dunia.
Profesor Leo Poon, seorang pakar virologi dari Hong Kong University dan pakar SARS, berkata bahwa dengan ditutup dan dibersihkannya pasar tempat penyakit ini mewabah, maka timbulnya infeksi baru akan menurun.
Namun tingkat keparahan situasi ini tergantung pada apakah penyakit ini bisa ditularkan dari manusia ke manusia.
Hui dari Universitas China juga sependapat. Dia berkata bahwa kemungkinan transmisi manusia ke manusia belum bisa dibuang sepenuhnya karena virus pernapasan sering kali dapat ditularkan antar manusia.
"Masalahnya hanyalah seberapa menular (virusnya)," ujarnya.
Para pakar juga khawatir karena waktu kemunculan virus ini yang menjelang Imlek.
Pasalnya, pada masa Imlek, ratusan juta warga China akan pulang kampung menggunakan kereta, bus dan pesawat terbang. Jutaan warga China lainnya juga akan berlibur ke luar negeri pada saat Imlek.
Di sisi lain, para pakar melihat bahwa sejauh ini belum ada kematian yang disebabkan oleh penyakit pneumonia misterius ini. Lagipula, kemampuan riset dan diagnosis saat ini jauh lebih baik daripada saat SARS mewabah satu dekade yang lalu.
Yuen Kwok-Yung, seorang ahli mikrobiologi dari Universitas Hong Kong, mengatakan kepada Time, Selasa (7/1/2019), sangat kecil kemungkinan ini akan menyebabkan wabah seperti tahun 2003, meskipun kita tidak boleh merasa puas dulu.
Bagaimana dunia merespons?
Selain China, pemerintah-pemerintah dunia juga sedang memerhatikan penyakit pneumonia misterius ini dan memperketat pengawasan.
Otoritas Rumah Sakit Hong Kong memperpendek waktu berkunjung ke rumah sakit dan mengharuskan semua pengunjung untuk memakai masker wajah. Pencitraan termal di bandara-bandara Hong Kong juga ditingkatkan.
Upaya yang sama juga dilaksanakan oleh pemerintah Singapura, yang menyatakan bahwa mereka akan melakukan pemindaian temperatur bagi para pengunjung dari Wuhan.
Sementara itu, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta, Banten, juga memperketak pengawasan kedatangan penumpang asal China.
Bandara Soekarno-Hatta akan mengaktifkan Thermal Scanner atau pemindai suhu tubuh selama 24 jam.
Dengan demikian pengunjung yang datang dengan suhu tubuh tidak normal akan segera terdeteksi dan dapat ditindaklanjuti.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Update Virus Misterius China, Kini Diduga Bisa Menular Antar Manusia"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/bandara-changi_atasi_virus_wuhan.jpg)