ADVERTORIAL

Mahasiswi Geleng-geleng Kepala Lihat Balon Wali Kota Batam Rian Ernest Blusukan Tak Pakai Amplop

SEORANG mahasiswi geleng-geleng kepala saat ikut blusukan bakal Calon Wali Kota Batam jalur independen, Rian Ernest, di Kelurahan Tiban Lama, Batam

Mahasiswi Geleng-geleng Kepala Lihat Balon Wali Kota Batam Rian Ernest Blusukan Tak Pakai Amplop
ist
Rian Ernest selaku bakal calon wali kota Batam bersama beberapa anak saat melakukan blusukan  di salah satu perumahan liar (ruli), beberapa waktu lalu. 

SEORANG mahasiswi geleng-geleng kepala saat mengikuti blusukan bakal Calon Wali Kota Batam jalur independen, Rian Ernest, di Kelurahan Tiban Lama, Batam, Kamis (23/1/2020).

Pasalnya, Rian Ernest tidak memberikan amplop kepada para warga yang ia kunjungi.

Hal ini diungkapkan Rian Ernest dalam unggahan instagram stories berdurasi 15 detik di akun instagram pribadinya @rianernest.

“Ini ada Mahasiswi ikut cara kita blusukan dan dia geleng-geleng. Kok gak ada amplopnya nih, aneh politisi,” ujarnya sembari tersenyum dan sekilas menunjukkan wajah mahasiswi yang dimaksud.

Saat dikonfirmasi melalui telepon, Rian menyampaikan alasannya melakukan blusukan tanpa memberikan amplop kepada warga Batam.

“Jadi kenapa sih saya gak mau kasih amplop. Soalnya kalau saya kasih amplop, kasih sembako, pasti modal politik saya itu jadi selangit. Pasti jadi koruptor. Karenakan gak semua politisi itu terlahir sebagai jutawan. Kalau pakai modal selangit ya pasti dia korupsi. Jadi kalau sekarang warga ngeliat OTT KPK pakai rompi oranye, mereka-mereka itukan terpilih dari rakyat juga. Rakyat sendiri yang menempatkan koruptor dalam jabatan,” ungkapnya, Jumat (24/1/20).

Menurut Rian, politik itu tidak hanya soal mencari kemenangan dan kekuasaan, tapi juga soal mendidik politik yang rusak.

“Nah dengan saya tidak memberikan amplop, saya sudah ikut dalam sebuah gerakan yang memastikan jangan ada lagi koruptor masuk sistem,” tegasnya.

Rian juga mengungkapkan bahwa dalam politik ia hanya memiliki dua pilihan, yaitu mengikuti arus atau memberikan semangat baru dengan cara memberi contoh baru dalam politik.

 “Dan kemarin seorang mahasiswi yang bantu saya dia pernah bantu politisi lain, makanya dia geleng-geleng kepala karena politisi lain yang dia bantu sepertinya memberikan bonus di akhir-akhir,” ungkap pria yang dulunya berprofesi sebagai Pengacara Korporasi ini.

 Rian pun memahami bahwa setiap rumah tangga memiliki kesulitan ekonomi, namun jangan sampai hal itu menyebabkan para warga menipu diri sendiri.

 “Kalau ada warga yang ditawarkan uang, masalah mau mengambil uang itu atau tidak, itu hak warga. Tapi, ya, kalau warga mengambil dan memilih uang tersebut, yasudah. Berarti ya warga tersebut juga sudah merelakan negerinya dirampok. Jadi sekali lagi, rompi oranye di KPK itu lebih banyak hasil pilihan warga kok. Jadi, sekarang warga harus lebih bertanggungjawab,” tegasnya.

“Sekarang terserah warganya apakah mau memilih hanya berdasarkan amplop dan sembako atau mau memilih berdasarkan kemampuan dan gagasan.Saya sudah melakukan peranan saya, sekarang giliran warga,” tutup pria yang berkampung halaman di Tarempa, Kepulauan Anambas ini.(adv)

Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved