HUMAN INTEREST
Rusman, Warga Kampung Tua Patam Batam: Dulu ke Singapura Pun Pakai Dayung
Rusman (48) warga Kampung Tua Patam Lestari, Tiban Mentarau, Sekupang, Batam menceritakan bagaimana selama ini tinggal di kampung tua tersebut.
Penulis: Beres Lumbantobing |
Rusman, Warga Kampung Tua Patam Batam: Dulu ke Singapura Pun Pakai Dayung
"Kampung tua bukan sekedar hunian perkampungan biasa bagi kami, disinilah kami tumbuh dewasa, inilah kampung nenek moyang kami. Namun perlahan-lahan warga penduduk mulai tergeser ke pelantar bantaran sungai, tinggal hitungan jari yang tersisah yang merupakan warga tempatan. Semuanya sudah berubah, hanya beberapa yang tersisa dari peradaban lokal, itulah yang sering kami gelar lomba perahu "sampan ketinting" kegiatan lokal yang membudaya dari dulu"
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Rusman (48) warga RT 2 RW 1, Kampung Tua Patam Lestari, Tiban Mentarau, Sekupang, Batam menceritakan bagaimana dia selama ini tinggal di kampung tua dan menceritakan masa lalunya yang menyenangkan.
Saat ditemui TRIBUNBATAM.id, Selasa (28/1/2020) Rusman yang baru selesai melaut dan mencari ikan di sungai mentarau menceritakan, bagaimana perkembangan kemajuan kampung tua Patam begitu pesat, sehingga banyak kebiasaan warga yang bergeser.
Kelompok nelayan mencari ikan juga demikian, semakin hari jumlah nelayan semakin berkurang, sebab hasil tangkapan laut di perairan sekitar sudah mulai berkurang.
Bukan tanpa alasan, kata Rusman, hal itu tentu dikarenakan kondisi perairan di wilayah Patam mulai terpengaruh akibat limbah maupun maraknya penimbunan mangrove bakau sehingga ikan pun mulai menjauh.
Bahkan Rusman menyinggung termasuk adanya aktivitas penimbunan laut di sekitaran jembatan Mentarau.
Namun, Rusman tidak ingin berpanjang lebar menceritakan soal tangkapan ikan, ia kembali menjelaskan bahwa, kegiatan rutin sampan ketinting yang dilakukan oleh warga kampung tua telah menjadi kebudayaan lokal setempat.
• Lutut Roidah Gemetar & Lemas Lihat Puluhan Satpol PP Datangi Lapak di Simpang Barelang Batam
Bahkan, kata dia, jika nelayan setempat untuk menggelar kegiatan perlombaan sampan, mereka akan mengumpulkan duit masing-masing agar kegiatan dapat terselenggara.
"Menggelar kegiatan pakai duit, bayar masing-masing (BBM) sebanyak 50 ribu satu sampan. iyaa seperti itulah, sebab tidak ada donatur kalau kita lomba," katanya bercerita.
Tak henti menenggak secangkir kopi di bantaran sungai yang tidak jauh dari rumahnya, Rusman menyebutkan bahwa lomba sampan ketinting inilah yang menjadi ikon sungai mentarau.
"Dari 1989 kegiatan lomba ini sudah saya ikuti, ini perkampungan jembatan mentarau kan sudah pindahan dari indah puri yang kini dipakai lapangan golf. Jadi dari dulu itu kami main sampan ketinting," katanya.
Dulu kalau sampan ketinting itu pakai dayung.
"Dulu ke Singapura pun dulu pakai dayung, saya ingat sekali itu, waktu masih muda pernah pakai dayung ke Singapura jemput barang," katanya
Namun sekarang ini, dia mengaku hal itu sudah tidak pernah lagi dilakukan sehingga mereka hanya berupaya menangkap ikan seadanya.
"Yang berubah tidak hanya itu, sampan tinting pun ikut berubah, kalau dulunya dibuat dari sampan kayu namun sekarang sudah berbahan fiber," jelasnya
Kata dia, sampan ketinting awalnya merupakan sampan layar yang dipakai dan dahulu, namun seiring perubahan zaman, semua ikut berubah. (Tribunbatam.id/bereslumbantobing)