KASUS PENCULIKAN

Mengaku Sering Diberi Makanan Basi, 2 Pembantu Bantah Culik Anak Majikan

Dalam ekspos di Mapolda Kepri, 2 pembantu itu membantah culik anak majikan. Mereka mengaku bila anak majikannya kerap disuruh bekerja seperti mereka.

Mengaku Sering Diberi Makanan Basi, 2 Pembantu Bantah Culik Anak Majikan
TribunBatam.id/Ian Sitanggang
Satbrimob Polda Kepri Ringkus 2 Pembantu Diduga Curi Anak Majikan. 

BATAM,TRIBUNBATAM.id - Dua pembantu rumah tangga yang diringkus anggota Brimob Polda Kepri lagi-lagi membantah adanya tindak pidana penculikan terhadap anak majikannya.

Saat konferensi pers di Mapolda Kepri, dua wanita yang diringkus anggota Brimob Polda Kepri di tempat penampungan TKI ilegal, Rabu (12/2/2020) kemarin ini mengungkapkan, anak majikannya bahkan ikut menunjukkan jalan keluar dari rumah yang berlokasi di Jakarta itu.

"Kami tidak menculik dia (anak majikan). Kami kabur karena sering diberi makanan basi dan diperlakukan tidak manusiawi," ucap salah seorang wanita itu, Kamis (13/2/2020).

Mereka bahkan menyebut, kalau anak majikannya itu kerap disuruh bekerja, sama seperti keduanya.

Mereka datang ke Batam setelah kabur dari Jakarta menuju Surabaya. Dari Surabaya mereka menuju Batam menggunakan kapal laut.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri, Kombes Pol Arie Dharmanto mengatakan, 2 orang wanita tersebut dijerat Pasal 332 ayat 1 KUHP dengan ancaman penjara maksimal tujuh tahun.

Dalam konferensi pers di Mapolda Kepri terungkap, dua orang wanita itu diringkus karena diduga menculik anak majikannya dari Jakarta Utara dan dibawa ke Batam.

Upaya itu kemudian digagalkan Datasemen Brimob dengan menggerebek lokasi dua wanita tersebut di kawasan Sagulung, Rabu (12/2/2020).

Dari penggerebekan itu, diketahui tempat tinggal para terduga pelaku merupakan tempat penampungan TKI/PMI yang akan dipekerjakan secara ilegal luar negeri.

"Untuk pelaku TKI Ilegal terancam dijerat pasal 81 dan 83 Undang Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2016 tentang perlindungan pekerja Migran Indonesia. Pelaku yang mengambil keuntungan untuk memperkerjakan TKI secara ilegal dijerat dengan ancaman paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 ( lima belas miliar rupiah).

Halaman
1234
Editor: Septyan Mulia Rohman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved