Kasus Virus Corona Terus Bertambah, Ekonomi Singapura Diprediksi Turun Capai 1,5 Persen
Dampak virus Corona dapat mengurangi 0,5 hingga 1 persen dari pertumbuhan PDB tahun ini di Singapura. Berikut ini prediksi penurunan dari Bloomberg.
TRIBUNBATAM.id - Singapura menjadi salah satu negara di dunia yang terkena dampak negatif dari penyebaran COVID-19 atau virus Corona.
Tak hanya bermunculan korban positif virus Corona di Singapura, hal ini juga merambah sektor perekonomian.
Ya, angka perkembangan ekonomi di Singapura dikabarkan menurun akibat virus Corona.
Singapura bahkan berencana mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar pekan ini untuk mengurangi kerugian dari dampak wabah virus Corona.
Sebelumnya sempat diberitakan, analis memprediksi Negeri Singa bakal menghadapi defisit anggaran terbesar dalam dua dekade terakhir di tahun ini.
Pasalnya, virus Corona dapat mengurangi 0,5-1 persen dari pertumbuhan PDB tahun ini tergantung pada seberapa parah epidemi itu, katanya.
• Konfirmasi 3 Kasus Baru COVID-19, Begini Cluster Penularan virus Corona di Singapura
Pemerintah yang akan mempublikasikan estimasi PDB akhir kuartal keempat Senin (17/2/2020) ini, telah memperkirakan pemulihan dari tahun lalu sebesar 0,7 persen, laju pertumbuhan paling lambat dalam satu dekade.
Dikutip dari Bloomberg, kesenjangan fiskal Singapura bakal melebar menjadi 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal pertama tahun ini yang jatuh pada 1 April 2020.
Angka tersebut adalah yang tertinggi sejak tahun fiskal 2001 yang sebesar 1,7 persen.
Sementara untuk deifisit anggaran diprediksi akan sebesar 0,3 persen sementara pemerintah menargetkan defisit anggaran akan sebesar 0,7 persen.
Singapura sudah merencanakan dukungan untuk bisnis yang terkena perang dagang ketika Corona virus pecah awal tahun ini.
Negara kota, yang memiliki lebih dari 60 kasus infeksi virus, kehilangan sebanyak 20.000 wisatawan per hari di tengah pembatasan perjalanan.
Menurut Perdana Menteri Lee Hsien Loong, dampak ekonomi tersebut sudah lebih parah daripada pandemi SARS 2003.
" Anggaran 2020 datang pada saat yang tepat untuk sikap fiskal yang lebih ekspansif untuk memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan untuk menyangga risiko pertumbuhan sisi negatif," kata kepala penelitian dan strategi di Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd. Selena Ling, di Singapura.
Sembilan dari 10 analis dalam polling Bloomberg mengatakan salah satu hal yang perlu dilakukan pemerintah sesegera mungkin saat ini adalah anggaran untuk merespon dan menangkal dampak sebaran birus terhadap bisnis di negara tersebut.