Kamis, 28 Mei 2026

Wabah Corona, Dolar Singapura Terkulai hingga Terancam Resesi, Ekonomi Batam Ikut Goncang

Dampak Virus Corona menghantam perekonomian Singapura, negeri Singa itu terancam resesi. Perekonomian Batam ikut terancam

Tayang:
istimewa
Dolar Singapura 

Bahkan kemungkinan akan lebih dalam daripada perlambatan yang dialami oleh Singapura.

"Itu yang kita khawatirkan ya. Karena perekonomian Batam sangat tergantung dengan Singapura," ujarnya.

Ia menambahkan ekonomi Batam, digerakkan oleh investasi yang sebagian besarnya berasal dari Singapura.

Jika Singapura mengalami perlambatan ekonomi, maka permintaan produk dari Batam juga bisa dipastikan akan menurun.

"Akibatnya bisa mengancam perekonomian Batam untuk jangka pendek dan menengah," tuturnya.

Berdasarkan data BPS Kepri, posisi ekspor Kepri terbesar ke Singapura, China lalu Amerika. Tercatat data per Desember 2019, Tiongkok berkontribusi 11,70 persen terhadap impor Kepri. Secara keseluruhan, impor dari Tiongkok senilai 1.194,61 juta dolar Amerika (1,1 miliar dolar Amerika) di 2019.

Memang masih kalah jauh dari Singapura yang merupakan mitra utama Kepri dengan nilai impor capai 4.616,61 juta dolar Amerika (4,6 miliar dolar Amerika).

"Tak ada alternatif lain karena susah. Singapura itu Center yang terbesar," jelasnya.

6. Indonesia waspada

Sri Mulyani
Sri Mulyani (YOUTUBE)

Wabah virus Covid-19 (Corona) menyebabkan pemerintah Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya pada tahun ini menjadi ke kisaran -0,5% hingga 1,5%, dari sebelumnya di kisaran 0,5%-2,5%.

Hal ini pun menambah deretan sentimen regional yang menjadi perhatian Menteri Keuangan Sri Mulyani terhadap prospek perekonomian dan APBN Indonesia sepanjang tahun 2020. 

Sri Mulyani mengatakan, pemerintah sejatinya tetap optimistis terhadap perbaikan ekonomi global maupun domestik tahun ini.

Apalagi, beragam lembaga multilateral telah memproyeksi kondisi ekonomi yang membaik pada tahun ini dibandingkan tahun 2019 lalu.

Namun, ia juga tak memungkiri bahwa beragam sentimen negatif yang muncul sejak awal tahun kian menggerus keyakinan tersebut.

Ditambah lagi masih ada berbagai ketidakpastian yang meliputi seperti ketegangan dagang, geopolitik, pemilu di Amerika Serikat, situasi politik di Uni Eropa, hingga wabah virus corona yang menjangkiti banyak negara di dunia.

“Ini semua menjadi barometer bagi kami untuk melihat seperti apa lingkungan (perekonomian) yang akan dihadapi ke depannya,” lanjut dia.

Dengan berbagai ketidakpastian tadi, Sri Mulyani mengatakan, akan terus memantau dan melakukan penyesuaian terhadap posisi APBN agar tetap berjalan sesuai tiga fungsi utamanya yaitu alokasi, distribusi, dan stabilisasi.(*)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved