KARIMUN TERKINI

Harga Emas di Karimun Mahal, Warga Pilih Jual Ketimbang Membeli, Turun 50 Persen

Mahalnya harga emas di Karimun membuat masyarakat lebih banyak menjual daripada membeli. Angka penjualan di pedagang emas turun hingga 50 persen.

TribunBatam.id/Elhadif Putra
Warga mengunjungi toko emas di Karimun, Rabu (4/3/2020). Pembelian emas turun hingga 50 persen akibat mahalnya harga emas. Banyak dari pemilik emas menjual logam mulia mereka. 

KARIMUN, TRIBUBATAM.id - Mahalnya harga emas membuat masyarakat lebih banyak menjual daripada membeli.

Penurunan penjualan yang dialami pedagang mencapai 50 persen sejak harga logam mulia itu terus merangkak naik.

Sementara orang-orang yang melakukan penjualan emas meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.

"Penjualan turun. Yang jual lebih banyak bisa sampai dua kali lipat," kata seorang pedagang emas di jalan Nusantara, Kelurahan Tanjungbalai Kota, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Dayat, Selasa (4/3/2020).

Naiknya harga emas dunia, menurut Dayat beriringan dengan kekuatan mata uang Dollar Amerika dan tingkat kebutuhan dunia.

Cegah Virus Corona di Karimun, Ruang Tunggu Penumpang Domestik Bakal Dipasang Thermal Scanner

Lupakan Virus Corona! Tinju Mania, Ini Jadwal Trilogi Deontay Wilder vs Tyson Fury, Momen Pembalasan

 

Selain itu isu-isu yang menghebohkan dunia juga dapat memicu lonjakan harga emas.

"Naiknya harga emas (saat ini) memang beriringan dengan wabah virus Corona. Kadang kalau ada perang harga emas juga bisa naik," ujarnya.

Namun harga yang dipakai oleh pedagang emas adalah harga lokal.

Biasanya harga lokal lebih rendah dibandingkan harga emas dunia.

Seperti pada Rabu (4/3/2020) harga emas dunia terpantau Rp 746 ribu pergram. Sementara harga lokal sekitar Rp 740 ribu.

"Biasanya satu Kepri pakai harga yang sama, yaitu harga lokal," ungkap Dayat.

Rendahnya pembelian emas menurut Dayat juga disebabkan lesunya ekonomi masyarakat yang terjadi saat ini.

"Banyak yang jual karena harga yang mahal, dan juga karena faktor ekonomi. Kebutuhan masyarakat lebih tinggi dari pendapatan," jelasnya. (TribunBatam.id/Elhadif Putra)

Penulis: Elhadif Putra
Editor: Septyan Mulia Rohman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved