Breaking News:

BATAM TERKINI

Rationing Air, Mati 2 Hari, Mengalir 5 Hari, Komisi III DPRD Batam Segera Panggil ATB

Komisi III DPRD Kota Batam segera memanggil ATB terkait rencana rationing air skema 2 hari mati, 5 hari mengalir.

Penulis: Filemon Halawa | Editor: Dewi Haryati
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA Dok ATB
Kondisi level air baku di waduk Duriangkang yang makin surut. Saat ini lever air baku berada di level -3,06 meter dari permukaan bangunan pelimpah. 

BATAM, TRIBUNBATAM.id – Rencana penggiliran air (rationing) di Waduk Duriangkang oleh perusahaan air PT Adhya Tirta Batam (ATB) menuai pro dan kontra. Sebab, waktu yang dibutuhkan ATB terbilang relatif lama. Yakni berhenti selama 2 hari, dan akan berjalan seperti biasa selama 5 hari dalam seminggu.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi III DPRD Kota Batam Arlon Veristo meminta pihak PT ATB untuk profesional. Sebab menurutnya, waktu yang dibutuhkan dua hari itu bukan waktu yang singkat. Apalagi air salah satu kebutuhan utama 1,3 juta masyarakat Batam.

“Saya sudah kroscek ke pihak ATB. Pengakuan mereka memang ada penyusutan di Dam Duriangkang. Tapi kan masih ada Dam yang di Tembesi. Seharusnya, kalau Dam Tembesi dialirkan masih mengatasi kendala ini. Ini yang belum dilakukan karena soal kontrak kosesi ini. Jadi kami minta, jangan karena suatu kepentingan, masyarakat jadi korban. Kami minta ATB lebih profesional,” ujarnya.

Selain itu, Komisi III DPRD Batam yang membidangi pembangunan, sarana dan prasarana dan lingkungan hidup akan memanggil pihak ATB untuk hearing atau rapat dengar pendapat (RDP).






“Kami segera panggil untuk memecahkan masalah ini. Jangan sampai masyarakat jadi korban. Dua hari berarti 48 jam mati. Ini sangat meresahkan kita semua. Masyarakat Batam bisa marah,” katanya.

Arlon meminta, jangan sampai ada gelombang masyarakat untuk melakukan aksi demonstrasi atas kebijakan ATB. Selain itu, jangan sampai ada gugatan perdata melalui sangketa konsumen ke depan. Agar tidak terjadi hal demikian, Arlon meminta ATB lebih profesional menangani masalah ini.

“Kita ini daerah industri. Kalau mati-mati air, dampaknya sangat luas. Yang dilihat investor adalah sarana dan prasarana. Apa itu? Misalkan kesiapan listrik, air, jalan dan sarana lain termasuk kepastian hukum. Jangan berdampak intinya,” jelasnya.

BERDOA Minta Hujan, Sekitar 600-an Orang Ikuti Salat Istisqa di BP Batam

Antisipasi Krisis Air, BP Batam dan ATB Siapkan Alternatif

Seperti diketahui, Dam Duriankang yang merupakan sumber bahan baku air untuk Kota Batam dirilis perusahaan air PT Adhya Tirta Batam (ATB) menyusut. PT ATB memberlakukan abstraksi air baku Waduk Duriangkang melalui 3 Instalasi Pengolahan Air (IPA). Diantaranya IPA Duriangkang, dengan kapasitas 2.200 liter perdetik. IPA Tanjungpiayu dengan kapasitas 200 liter perdetik.

Per tanggal 5 Maret 2020, penyusutan volume air baku di Waduk Duriangkang telah mencapai minus 3,06 meter dari permukaan bangunan pelimpah. Pemerintah (BP Batam) memutuskan untuk melakukan penggiliran (Rationing) di waduk Duriangkang.

"Langkah ini akan mulai dilakukan pada Minggu kedua Maret 2020, dengan skenario 2-5. Artinya, operasional di waduk Duriangkang akan berhenti selama 2 hari, dan akan berjalan seperti biasa selama 5 hari dalam seminggu," jelas Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus.

Program penggiliran ini akan berdampak kepada sekitar 228.900 pelanggan yang dilayani melalui waduk tersebut. Tidak hanya berdampak pada 196.000 pelanggan domestik, penggiliran suplai juga akan berimbas pada 2.900 pelanggan industri dan 30 ribu pelanggan komersil.

Adapun daerah yang akan terdampak penggiliran meliputi Tanjungpiayu, Mukakuning, Sagulung, Batuaji, Tanjunguncang, Marina, Batam Centre, Nagoya, Jodoh, Bengkong, Batuampar, Kabil, Punggur dan sekitarnya. Pelanggan akan mengalami pemulihan suplai setelah Instalasi Pengolahan Air (IPA) kembali beroperasi.

Waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan suplai air pasca penggiliran sangat tergantung kepada perilaku konsumen. ATB berharap, konsumen yang ada di area hulu (berdekatan dengan Instalasi Pengolahan Air) lebih bertoleransi, agar pengguna yang berada di ujung pipa atau tempat yang tinggi dapat segera mendapat aliran air setelah penggiliran selesai.

(tribunbatam.id/leo halawa)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved