Breaking News:

BATAM TERKINI

Pemilik Tambang Pasir Ilegal di Nongsa Batam Diduga Raup hingga Rp 60 Juta per Hari

Kasubdit IV Ditreskrimsus memperkirakan, keuntungan yang diraih para penambang pasir secara ilegal tersebut dalam sehari mencapai Rp 60 juta.

TRIBUNBATAM.id/Humas Polda Kepri
Polda Kepri melalui Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda menggerebek tambang pasir Ilegal di kawasan Batu besar, Nongsa, Batam, Jumat (6/3/2020) malam sekitar pukul 20:30 WIB. 

Pemilik Tambang Pasir Ilegal di Nongsa Batam Diduga Raup hingga Rp 60 Juta per Hari 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Subdit IV Ditreskrimsus Polda Kepri Jumat (6/3/2020) malam menggerebek salah satu tambang Pasir ilegal di Batu Besar, Nongsa, Batam.

Dari penggerebekan tersebut diamanankan 20 orang di lokasi tambang pasir, unit mobil lori, 4 unit escavator dan 4 buku rekapan hasil penjualan tambang.

Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Kepri AKBP Wiwit Ari Wibisono mengatakan, penggerebekan tersebut dilakukan setelah ada laporan dari masyarakat yang menyebutkan ada penambangan pasir tanpa izin.

"Pihak pengelola tidak dapat menunjukan dokumen perizinan penambangan tanah urug/pasir, dan diduga penambangan dilakukan di kawasan hutan lindung," jelas Wiwit.

Polda Kepri Gerebek Tambang Pasir Ilegal di Nongsa Batam, 20 Orang Diamankan

Wiwit juga menambahkan tambang pasir tersebut telah beroperasi selama dua minggu terakhir.

Kasubdit IV Ditreskrimsus memperkirakan, keuntungan yang diraih para penambang pasir secara ilegal tersebut dalam sehari mencapai Rp 60 juta.

"Sesuai keterangan para pekerja yang diamankan, dalam satu hari para penambang yang diduga ilegal tersebut dapat menjual antara 280 sampai 400 lori per hari," ujarnya.

Jika setiap lori pasir tersebut dijual seharga Rp 150 ribu maka penjualan 280 sampai 400 lori per hari akan menghasilkan Rp 42 juta hingga 60 juta per hari.

"Penambangan yang diduga ilegal ini, sehari bisa menghasilkan Rp 42 juta sampai Rp 60 juta. Jadi, selama 2 minggu keuntungan yang didapat sekitar Rp 588 juta sampai Rp 840 juta. Kalau sampai sebulan bisa Rp 1,8 miliar," ujarnya.

JIka terbukti, pelaku penebangan pasir akan dijerat pasal 158 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara atau Pasal 109 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang lingkungan hidup. (TRIBUNBATAM.id/ALAMUDIN)

Penulis: Alamudin Hamapu
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved