Optimal Antisipasi Krisis Air di Batam, Apa yang Dilakukan ATB?

PT. Adhya Tirta Batam (ATB) terus berupaya memberikan layanan terbaik di tengah keterbatasan sumber air baku di Batam.

Optimal Antisipasi Krisis Air di Batam, Apa yang Dilakukan ATB?
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA dok ATB
Kondisi air baku di Waduk Duriangkang semakin surut dan memprihatinkan. ATB telah melakukan berbagai upaya efisiensi pengolahan air, guna meminimalisir dampak minimnya cadangan air baku Kota Batam. Namun, yang paling penting adalah upaya serius pemerintah dalam melaksanakan konservasi air baku. 

BATAM, TRIBUNBATAM.id – PT. Adhya Tirta Batam (ATB) terus berupaya memberikan layanan terbaik di tengah keterbatasan sumber air baku. Namun, potensi krisis air baku harus tetap menjadi perhatian utama pemerintah.

Bergerak di bidang utilitas pelayanan air bersih di wilayah dengan keterbatasan sumber daya air baku, ATB sangat menyadari pentingnya melakukan berbagai upaya untuk turut serta menjaga ketersediaan air baku.

Untuk itu, ATB telah melakukan upaya efisiensi dalam hal pengelolaan air selama bertahun-tahun. Sehingga, walaupun sumber air baku di Batam sangat terbatas, masyarakat Batam masih bisa menikmati air bersih hingga hari ini.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan ATB adalah menekan angka kebocoran air. Angka kebocoran air ATB hanya 15 persen yang merupakan tingkat kebocoran terendah se-Indonesia.

Namun, efisiensi yang dilakukan ATB tidak akan cukup jika Batam tak kunjung mencari solusi untuk mengatasi masalah ketersediaan air baku. Setidaknya, ada 2 hal penting yang harus menjadi perhatian. Yakni, menjaga Daerah Tangkapan Air (DTA) di waduk-waduk yang telah ada, dan menambah cadangan sumber air baku baru.

“ATB sudah melakukan kewajibannya secara maksimal. Bahkan melebihi yang diwajibkan. Namun, apa yang kami lakukan tidak akan berguna bila kita tak menjaga sumber-sumber air baku di Batam,” ujar Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Selasa (10/3/2020).

Saat ini, kebutuhan air bersih di Kota Batam dipenuhi melalui 5 waduk milik pemerintah. Diantaranya Waduk Duriangkang, Mukakuning, Sei Harapan, Sei Ladi dan Nongsa. Waduk Duriangkang menopang 80 persen kebutuhan masyarakat kota Batam.

Namun, saat ini air di Waduk Duriangkang yang menopang kebutuhan air 228.900 pelanggan, telah menyusut hingga level -3,14 meter di bawah bangunan pelimpah. Jika air menyentuh level -3,4 meter di bawah bangunan pelimpah, maka IPA Tanjung Piayu dan pompa intake yang menyalurkan air dari waduk Duriangkang ke IPA Muka Kuning akan berhenti beroperasi.

Sementara bila air telah menyentuh level -5,0 meter, maka seluruh IPA Duriangkang dengan kapasitas 2.200 liter juga akan berhenti beroperasi. Pada akhirnya, akan ada 228.900 sambungan pelanggan yang tak akan mendapat pelayanan air bersih. Perlu diketahui, saat ini level air di waduk konsisten mengalami penurunan sebesar 2 cm.

“Mari sama-sama berharap agar pemerintah sebagai pemilik waduk memiliki langkah antisipatif jangka pendek dan jangka panjang. Jangan sampai Batam lumpuh karena tidak ada air,” tegas Maria.

Halaman
12
Editor: Dewi Haryati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved