ADVERTORIAL

Sense of Urgency Soal Corona di Kepri Lemah

Andrei Simanjuntak menyatakan seorang kepala daerah sebagai pemimpin harus bertindak cepat dalam menangani bahaya virus corona yang sudah menjadi pand

Sense of Urgency Soal Corona di Kepri Lemah
ISTIMEWA
Andrei Simanjuntak 

TRIBUNBATAM.id - Andrei Simanjuntak menyatakan seorang kepala daerah sebagai pemimpin harus bertindak cepat dalam menangani bahaya virus corona yang sudah menjadi pandemic, sambil menimbulkan “sense of urgency” atau rasa tergugah untuk bertindak karena melihat suatu kondisi darurat.

Politisi PKS itu menyatakan tidak adanya sense of urgency baik di pemimpin ataupun masyarakat Kepri sangat mengkhawatirkan karena Kepri sebagai daerah perbatasan sangat rentan tertularnya virus yang sudah merebak di 192 negara ini.

Kesadaran bahaya corona belum begitu tergugah apakah karena mungkin kurangnya kepedulian di masyarakat Kepri untuk mengikuti berita-berita luar negeri? Apapun alasannya, menurut Andrei tugas pemimpinlah untuk membangkitkan kepedulian dan rasa “kesegeraan” di masyarakatnya”.

"Ketika walikota atau gubernur hadir untuk membunyikan tanda bahaya bahwa virus corona itu sudah ada di tengah-tengah kita dan kita harus bertindak cepat maka Insha Allah akan sangat banyak korban yang bisa dihindari," demikian pesan Andrei Simanjuntak melalui rilis pada Selasa, 24 Maret 2020.

Andrei mengetahui informasi terkait rencana Pemerintah Kota Batam untuk menyisir warganya untuk memetakan suspect covid 19 ini.

Menurutnya itu hal yang baik, namun akan terlalu lama apabila harus menunggu hasil dari pemetaan ini baru kemudian bertindak.

Alangkah lebih baiknya apabila secara bersamaan pemerintah daerah langsung terjun dengan tindakan nyata, seperti misalnya membersihkan tempat ibadah dengan disinfektan, membagikan masker kepada lansia, mengeluarkan larangan untuk berkumpul, dan mengeluarkan spanduk/baliho yang memberikan edukasi berupa bagaimana cara praktis menghindari covid 19 ini.

“Dalam keadaan darurat, maka intervensi yang diperlukan bersifat darurat juga. Menyadari bahwa suatu kondisi sudah bersifat darurat inilah yang disebut sense of urgency, tapi kelihatannya pemerintah propinsi maupun kota belum sampai ke taraf itu.”

Andrei melihat langsung di Batam dan Kepri tidak tersedia papan informasi yang memadai, baik itu spanduk, baliho maupun poster digital yang mengajak masyarakat bertindak preventif yang dikeluarkan resmi oleh pemerintah daerah agar tidak terjangkiti virus yang berasal dari Wuhan China ini .

"Untuk itulah sejak dua pekan lalu saya sudah bersuara agar pemerintah daerah membantu tersedianya hand sanitizer di tempat publik. Karena menurut saya memelihara jiwa masyarakat lebih penting dari segalanya," tambahnya.

Andrei berharap walikota atau gubernur tidak perlu menunggu sepekan lagi untuk memutuskan memberikan larangan untuk shalat di masjid atau ibadah sesuai agama apapun dimana banyak orang akan berkumpul demi kebaikan bersama.

Dalam qaidah Ushul Fiqh di agama Islam sudah jelas bahwa menghindari suatu mudharat harus didahulukan dari mencapai maslahat.

Dan Ulama dari berbagai negara Islam di dunia sudah sepakat bahwa menangguhkan shalat di masjid demi mencegah merebaknya sebuah wabah itu diperbolehkan, termasuk di Saudi Arabia sendiri.

Menurutnya masukan di atas bukan tindakan kepanikan, akan tetapi bentuk kewaspadaan yang sangat rasional. Andrei meyakini langkah tersebut efektif untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

"Kita jangan terlambat bertindak. Jangan sampai kasus di banyak negara seperti Italia, Korsel dan Iran terjadi di Kepri," ucapnya.(adv)

Editor: Agus Tri Harsanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved