Jumat, 10 April 2026

VIRUS CORONA

Dampak Malaysia Lockdown, Permintaan Ekspor Daging Babi dari Kepri Meningkat 2 Kali Lipat

Dampak Malaysia Lockdown, Permintaan Ekspor Daging Babi dari Kepri Meningkat 2 Kali Lipat

|
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA
Ribuan babi akan diekspor ke Singapura oleh PT Indo Tirta Suaka (ITS) melalui pelabuhan Jatty Baru di Pulau Bulan, Kepri, Minggu (29/3/2020). 

TRIBUNBATAM.id,TANJUNGPINANG - Data Kantor Karantina Pertanian Tanjungpinang mencatat, pengiriman ekpor babi dari Pulau Bulan, Kota Batam, Provinsi Kepri, Minggu (29/3/2020) mencapai 1.635 babi dengan nilai Rp 5,171 Miliar.

Petugas karantina yang bertugas Ervi mengatakan, peningkatan ekspor babi dari Pulau Bulan, Kepri setelah Malaysia melakukan lockdown.

Ia mengungkapkan, sebelum Malaysia melakukan lockdown. Biasanya permintaan per hari rata-rata sebanyak 700 sampai 900 babi.

Permintaan babi untuk dari Provinsi Kepri meningkat hingga dua kali lipat.

"Saat ini mencapai 1.400 bahkan 1.600 babi," ucapnya saat melakukan pemeriksaan fisik dan kesehatan babi yang akan diekspor oleh PT Indo Tirta Suaka (ITS) melalui pelabuhan Jatty Baru di Pulau Bulan, Kepri, Minggu (29/3/2020).

Ervi mengatakan, selama ini Singapura menjadi negara pengimpor untuk kebutuhan daging dari Malaysia dan Indonesia.

Begitu Malaysia menerapkan lockdown akibat Covid-19, permintaan akan kebutuhan daging babi beralih ke Indonesia.

"Setiap kejadian selalu ada hikmahnya. Karantina Pertanian Tanjungpinang akan selalu siap melayani, memberi jaminan kesehatan dan keamanan agar komoditas pertanian kita diterima di pasar dunia," tambahnya.

Pedagang Kelapa Parut di Anambas Gigit Jari

Pedagang kelapa parut di Pasar Ikan Tarempa, Desa Tarempa Barat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri mengeluhkan pembeli yang sepi akibat Covid-19.

Mereka hanya bisa pasrah ketika stok kelapa yang mereka miliki busuk tidak dibeli konsumen.

Seorang pedaganng, Doni mengaku, sudah empat hari terakhir termasuk hari ini, kelapa parut miliknya hanya terjual beberapa butir saja.

"Sangat sepi sekali semenjak virus Corona ini. Pembelinya juga jarang. Karena pelanggan saya banyak yang pesan makan dari rumah makan. Belum lagi sebagian rumah makan memilih untuk tidak berjualan," keluh pria 35 tahun ini saat ditemui di kiosnya, Minggu (29/3/2020).

Ia pun mengatakan bahwa hampir seminggu belakangan ini kelapa yang ia pasok dari Kecamatan Midai, Kabupaten Natuna itu hanya dibeli 10 butir dalam satu harinya.

Sebelum adanya larangan bagi masyarakat untuk keluar dari rumah, Doni bisa menjual kelapa dengan meraup omzet antara Rp 500 -600 ribu per hari.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved