VIRUS CORONA DI BATAM
Lagi Populer, Seberapa Akurat Rapid Test Covid-19? Ini Kata Kadinkes Batam
Kadinkes Batam, Didi Kusmarjadi bilang alat rapid test bukanlah akhir dari segala tes. Alat ini juga punya kelemahan
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Wabah virus Corona atau COVID-19 di Indonesia khususnya di Batam, seakan menakutkan. Bukan tanpa alasan, virus ini tidak memilih jenis kelamin, jabatan atau bahkan umur.
Siapa saja bisa terpapar. Belum lama ini, alat rapid test menjadi salah satu alternatif cepat melakukan pengetesan seseorang apakah negatif Corona atau sebaliknya.
Apakah rapid test sudah maksimal bekerja untuk melakukan pengetesan? Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Batam dr Didi Sumarjadi mengatakan, alat rapid test bukan lah akhir dari segala tes. Rapid test berasal dari bahasa Inggris yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia, tes cepat.
"Pengecekan antibodi atau rapid test merupakan level terendah diagnostik. Urutan pertama kultur ini memakan waktu karena membiakkan virus atau kuman. Urutan kedua polimerasi RNA dan DNA.
Ini yang sekarang kita pakai dengan alat PCR (Polymerase Chain Reaction). Mendeteksi RNA dan DNA virus," jelas Didi, Jumat (3/4/2020) siang.
Urutan ke tiga kata Didi, deteksi antigen. Ini bisa mendeteksi saat awal virus masuk. Dan urutan terakhir baru deteksi antibodi.
• Hindari Mafia, Alat Rapid Test Tak Dijual Bebas, Ini Ancamannya Jika Ada yang Menjual
• Dapat Asimilasi di Rumah, Bapas Batam Terima 67 Berkas Warga Binaan, Ini Sanksi Bagi yang Melanggar
"Ini lah yang rapid test. Artinya virus masuk baru seminggu kemudian terdeteksi. Bisa disebabkan pengecekan sebelum 7 hari sejak masuknya virus," kata dia.
Masih dengan penjelasan Didi. Ia mengatakan, rapid test ada kelemahannya yaitu bisa false positif dan false negatif. False negatif artinya negatif palsu dan false positif atau positif palsu bisa disebabkan seseorang pernah bersinggungan dengan orang yang terpapar virus Corona lain sebelumnya.
"Seperti penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS)," imbuhnya.
Dunia medis, masih mempercayai bahwa hasil swab test adalah akurat. Karena keakurasian data atau informasi yang diperoleh dari swab rata-rata pasti. Karena ujinya pun, di laboratorium yang membutuhkan waktu relatif lama dibandingkan rapid test.
Baru-baru ini, diberitakan kompas.com pasien dalam pengawasan (PDP) di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, meninggal pada Rabu (1/4/2020) malam. PDP asal Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto itu meninggal saat dirawat di RSUD Wahidin Sudiro Husoso, Kota Mojokerto.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Sujatmiko mengatakan, pasien itu dirawat sejak Sabtu (28/3/2020). Pada Selasa (31/3/2020), pasien itu sempat diizinkan pulang karena kondisinya membaik.
Tapi, penyakitnya kembali kambuh pada malam hari. Pasien itu kembali dilarikan ke RS Wahidin Sudiro Husodo.
"Statusnya PDP Covid-19," kata Sujatmiko kepada Kompas.com, Kamis.
PDP itu sempat diperiksa menggunakan alat rapid test virus corona baru atau Covid-19.
"Hasil rapid test negatif," kata Sujatmiko.
(Tribunbatam.id/leo halawa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/27032020alat-rapid-test-covid-19.jpg)